Senar Harpa Itu Telah Pergi

Selasa, 5 Januari 2021 19:16

Hamid Awaluddin

(In Memorial Prof WIM Poli)

Oleh: Hamid Awaludin

Di tengah laut dalam dengan ombak yang menghempas, antara Raja Ampat dan Sorong, tiba-tiba saya menatap lurus, segalanya terasa hampa, air mata saya yang bening, mendadak menetes, terus menerus, mendengar berita kepergian Prof. WIM Poli beberapa hari lalu.

Tanggal 24 Desember lalu, saya berada di Afghanistan dan almarhum masih mengontak saya, memberitahu bahwa ia terbaring di rumah sakit, mengidap Covid-19. “Saya ditangani dengan baik, tak usah khawatir,” katanya ke saya. Saya tak menyangka, itulah kata-kata terakhir yang disampaikan ke saya di bumi ini. Esoknya, beliau tak menjawab lagi ketika saya kontak. Sang Ilahi memanggil hamba-Nya. Itulah jurisdiksi mutlak-Nya yang sarat dengan misteri.

Saya mengenal WIM Poli pada tahun 1980, ketika saya masih mahasiswa di Fakultas Hukum, dan almarhum sudah menjadi dosen senior di Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin. Di sebuah acara seminar, WIM Poli berbicara tentang modernisasi. Ia menguraikan perspektif Max Weber hingga David MacLelland. Sejak itu, WIM Poli menjadi guru dan teman saya hingga kepergiannya pekan silam. Saya tiba-tiba menemukan orang yang bisa selalu mengisi dahaga intelektual saya. Sejak perkenalan saya itu, hubungan kami kian rekat hingga ajal menjemputnya.

Bagai Senar Harpa

WIM Poli adalah seorang ekonom, tetapi tidak tersekat oleh disiplin ilmu ekonomi belaka. Ia bisa dengan enteng berselancar dalam lautan ilmu filsafat. Mahir meliuk dan berdansa dengan Sosiologi dan Antropologi. Ia dengan enteng mengunyah sejarah dari pelbagai peradaban umat manusia.

Komentar