PPATK Bekukan 59 Rekening Terkait FPI, Terindikasi Tindak Pidana Pencucian Uang

Rabu, 6 Januari 2021 10:47

Front Pembela Islam (FPI)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) membekukan total 59 rekening yang terkait Front Pembela Islam (FPI).

Tindakan ini diambil usai pemerintah membubarkan FPI dan segala kegiatannya per 30 Desember 2020.

Pembubaran ormas milik Habib Rizieq Shihab itu didasarkan atas Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung, Kapolri, dan Kepala BNPT.

Demikian disampaikan Kepala PPATK, Dian Ediana Rae dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (5/1/2020).

“PPATK telah menerima 59 Berita Acara Penghentian Transaksi dari beberapa Penyedia Jasa Keuangan atas rekening FPI. Termasuk pihak terafiliasinya,” ujarnya.

Pelaksanaan fungsi analisis dan pemeriksaan laporan dan informasi transaksi keuangan yang terindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana lain, menjadi alasan PPATK melakukan pembekuan transaksi dan aktivitas rekening FPI berikut afiliasinya.

Kewenangan itu, sambung Ediana, diatur dalam Pasal 44 ayat (1) huruf i UU TPPU.

Di mana dalam rangka melaksanakan fungsi analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi.

PPATK dapat meminta penyedia jasa keuangan untuk menghentikan sementara seluruh atau sebagian transaksi yang diketahui atau dicurigai merupakan hasil tindak pidana.

Tujuan tindakan ini, kata Ediana, adalah untuk mencegah adanya upaya pemindahan atau penggunaan dana dari rekening yang diketahui atau dicurigai merupakan hasil tindak pidana.

Nantinya, PPATK akan menyampaikan hasil analisa dari pembekuan rekening tersebut kepada penegak hukum.

“Untuk kemudian dapat ditindaklanjuti dengan proses penegakan hukum oleh aparat penegak hukum yang berwenang,” tandasnya.

Sebelumnya, tim hukum FPI menyebut ada dua rekening yang dibekukan usai pembubaran.

“Ada dua rekening yang sudah diblokir,” kata Sugito kepada JPNN, Selasa (5/1/2020).

Dua rekening itu, kata Sugito, salah satunya atas nama organisasi dan yang lainnya atas nama pribadi, atas nama Irvan Ghani.

“Rekening BCA yang diblokir (milik Irvan Ghani),” tambah Sugito.

Rekening Irvan itu, kata Sugito, digunakan FPI untuk menggalang dana enam laskar FPI yang ditembak polisi.

Uang hasil penggalangan dana dimaksud juga sudah diserahkan kepada pihak keluarga sebelum akhinya rekening tersebut diblokir.

Sugito curiga, pembekuan rekening tersebut dikehendaki oleh pihak tertentu.

Kendati demikian, ia tak mengungkap pihak mana yang dia maksud.

“Saya khawatir kemauan pihak tertentu,” ujarnya. (pojoksatu/fajar)

Komentar