Vaksinasi Tidak Otomatis Turunkan Kasus Covid-19, Prof Tasrief: Prokes dan Pembatasan Sosial Adalah Keniscayaan

Rabu, 6 Januari 2021 22:06

Guru Besar Fisika Teoretik FMIPA Universitas Hasanuddin, Prof. Tasrief Surungan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kementerian Kesehatan RI menargetkan program vaksinasi Covid-19 dimulai pada 13 atau 14 Januari 2021. Sejak Minggu malam, 3 Januari 2021, Kemenkes sudah mulai mengirimkan 1,2 juta vaksin ke 34 provinsi seluruh Indonesia.

Khusus untuk Sulawesi Selatan, sebanyak 30.000 unit atau 16 kilo paket Vaksin Sinovac Covid-19 dari Bio Farma telah tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, pada Selasa (5/1/2021).

Untuk gelombang pertama vaksin Covid-19 diprioritaskan untuk tenaga kesehatan, sebagai pihak paling rentan terpapar Covid-19. Setelah itu, vaksin diprioritaskan bagi petugas pelayanan masyarakat. Berikutnya menyasar masyarakat umum.

Guru Besar Fisika Teoretik FMIPA Universitas Hasanuddin, Prof. Tasrief Surungan mengingatkan bahwa hasil dari program vaksinasi tentu tidak serta merta menurunkan laju pertumbuhan kasus.

“Perlu waktu, estimasinya bisa beberapa bulan, sebutlah pada kisaran 3 bulan,” katanya kepada fajar.co.id, Rabu (6/1/2021).

Maka, kata dia, dalam durasi itu pengendalian kasus bertumpu pada pembatasan sosial dan penerapan protokol kesehatan. Ketika jumlah kasus meningkat secara signifikan, maka pemerintah perlu kembali ke opsi pembatasan sosial berskala besar.

Untuk wilayah Sulsel, khususnya Pemerintah Kota Makassar, Prof Tasrief menyampaikan apresiasinya atas kesigapan menutup fasilitas-fasilitas publik untuk meghindarkan kerumunan dalam merayakan Tahun Baru 2021.

Sebagaimana diketahui, Dalam dua pekan menjelang Tahun Baru, memuncak pertumbuhan jumlah kasus Covid-19 di Sulsel, khususnya Makassar.

“Pasca Tahun baru, ada kecederungan menurun, dan itu tentu akibat pembatasan sosial, termasuk pemberlakuan jam malam oleh Pemkot Makassar,” tandasnya.

Menurutnya, pemerintah sepertinya sudah mulai paham betul bahwa pertumbuhan jumlah kasus selalu dipicu oleh peningkatan interaksi sosial.

“Polanya demikian, mulai dari perayaan Idul Fitri dan Idul Adha tahun lalu, kemudian Pilkada Serentak. Sepekan setelah itu selalu diikuti oleh peningkatan jumlah kasus. Pola ini harus bisa diantisipasi, termasuk dalam masa vaksinasi,” tegas Prof Tasrief.

Lebih lanjut ia menyampaikan, pemerintah dan masyarakat tetap harus waspada. Over-confidence harus dihindari. Dalam masa pandemi yang belum reda ini, pembatasan interaksi sosial secara sukarela oleh masyarakat mestinya dapat dilakukan. Dengan begitu, jumlah kasus akan signifikan menurun.

Pada saatnya, ketika program vaksinasi sudah menjangkau 50% penduduk, maka tentu jumlah kasus juga akan signifikan menurun.

“Perlahan, gelombang ini akan berlalu, dan tentu kita berharap tidak ada lagi gelombang yang lain. Cukuplah gelobang kedua, sebagaimana yang sedang kita alami,” tutup Prof Tasrief lugas. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
2
4
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar