Perairan Kepulauan Seribu Diguyur Hujan, Evakuasi Sriwijaya Air SJ-182 Ditunda

Minggu, 10 Januari 2021 19:59

Dua Sea Rider Kopaska bersiap melakukan pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Perairan K...

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Proses evakuasi pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang diduga jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta terpaksa ditunda karena perairan Kepulauan Seribu diguyur hujan deras. Tetapi, hal ini tidak menyurutkan tekad tim search and rescue (SAR) gabungan untuk melakukan proses pencarian korban serta puing pesawat Boeing 737-500.

Secangkir kopi hitam menjadi penyemangat para tim SAR yang berada di Kapal Basudewa milik Basarnas. Relawan penyelam dari Indonesia Divers Rescue Team (IDRT) merelakan hari liburnya untuk membantu proses evakuasi.

Perlengkapan selam menjadi modal utama dalam proses evakuasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-128. Terjangan ombak disertai hujan di perairan Kepulauan Seribu, bukan permasalahan utama dalam misi kemanusiaan tersebut.

Koordinator IDRT Bayu Wardoyo menuturkan, risiko terberat melakukan penyelaman adalah kematian. Hal ini diantisipasi dengan menjaga kondisi fisik, selain itu para penyelam juga harus terus meningkatkan pengetahuan dan pengalaman.

’’Alat selam kalau sudah dirakit beratnya 15 kilogram. Rata-rata penyelaman 45 menit, risiko kematian paling tinggi,’’ ucap Bayu kepada JawaPos.com di Kapal Basudewa yang berlayar di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/1).

Meninggalkan keluarga di rumah pada saat hari libur bukan suatu masalah. Bayu bersama 10 rekannya lebih memilih ingin membantu Basarnas untuk melakukan proses pencarian korban, hingga bangkai pesawat Boeing 737-500 yang hilang kontak pada Sabtu (9/1) sekitar pukul 14.40 WIB. ’’Kami ini swadaya, kita nggak di-support siapa-siapa. Intinya kami membantu dengan keahlian yang kita punya,’’ ucap Bayu.

Komentar