Polarisasi Antar Kubu Meruncing, SBY: Saya Sungguh Prihatin Lingkaran Tentara dan Polisi

Minggu, 10 Januari 2021 13:05

Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), (Dery/JawaPos.com)

Pertimbangan utama dalam memilih pemimpin seperti faktor integritas, kapasitas dan kesiapan untuk memimpin, dianggap tak lagi penting. Kalau hal begini menjadi kenyataan di Indonesia, dan dari tahun ke tahun makin ekstrem, bisa dibayangkan masa depan negeri ini.

“Karenanya, mumpung belum terlalu jauh divisi dan polarisasi sosial serta politik di negeri kita, para pemimpin dan semua elemen bangsa harus sadar bahwa sesuatu harus dilaksanakan. Pembiaran dan inaction adalah dosa dan kesalahan besar,” pesan pendiri Partai Demokrat itu.

Di sisi lain, ia mengingatkan, jangan pula ada yang justru menginginkan dan memelihara polarisasi sosial-politik yang tajam ini untuk kepentingan pribadi dan politiknya.

Kalau ada pihak-pihak yang berpikiran dan bertindak seperti itu, menurut SBY, mereka bukan hanya tidak bertanggung jawab tetapi juga tidak bermoral. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang sudah benar-benar terbelah dan terpolarisasi secara tajam, sangat tidak mudah untuk menyatukannya kembali.

Menutup tulisan tersebut, SBY menyampaikan permintaan maaf jika ada pihak-pihak yang tak berkenan dengan artikel ini.

Pasalnya, setiap kali dirinya menyampaikan pandangan dan pendapat, selalu ada yang salah terima. Padahal niatnya baik, dan pandangan yang disampaikan juga tulus sifatnya. Tak ada keinginan untuk menggurui siapapun.

“Saya masih membaca berbagai tuduhan dan komentar miring dari kawanan buzzer, setiap saya menyampaikan pandangan. Rakyat Indonesia tentu tahu bahwa saya pernah memimpin negeri ini. Saya tahu bahwa persoalan bangsa itu kompleks dan tak semudah yang dipikirkan masyarakat. Karenanya, saya tak suka dan tak mudah menyalahkan pemerintah. Sungguhpun demikian, sebagai orang tua dan juga seseorang yang sangat mencintai negeri ini, tentunya boleh kan saya berpendapat dan berbicara,” tutup SBY lugas. (endra/fajar)

Komentar