Kemanjuran Vaksin Sinovac 65,3%, Andi Mallarangeng: Apakah Kita Harus Divaksin dengan Efikasi Serendah Itu?

Senin, 11 Januari 2021 19:28

Andi Alfian Mallarangeng

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng mempertanyakan keputusan pemerintah yang menggunakan vaksin buatan Sinovac.

Terlebih, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan efikasi atau tingkat kemanjuran vaksin Sinovac di Indonesia manjur 65,3 persen.

Itu berdasarkan hasil uji klinis fase 1 dan 2 di Tiongkok, lalu hasil uji klinis di Bandung dan hasil interim, menunjukkan vaksin

“Effikasi vaksin Sinovac yang dibeli Pemerintah ternyata hanya 65,3%. Ini hasil uji klinis yang diumumkan oleh BPOM hari ini. Artinya, ada 34,7% kemungkinan setelah divaksinasi kita akan tertular juga,” kata Mallarangeng dikutip dari akun Instagramnya, Senin (11/1/2021).

Politikus Partai Demokrat itu lantas membandingkan vaksin buatan negeri Tiongkok itu dengan vaksin lainnya. Seperti Pfizer-Biontech (Jerman) dan Moderna (Amerika Serikat).

“Bandingkan dengan vaksin Pfizer-Biontech yang effikasinya 95%, atau Moderna yang effikasinya 94%. Pertanyaannya adalah: Apakah kita harus divaksin dengan vaksin yang effikasinya serendah itu?” tanya Mallarangeng.

Sebelumnya, BPOM sudah menerbitkan Izin Penggunaan Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) pada Senin (11/1). Sehingga vaksinasi untuk melawan Covid-19 akan segera bisa dilaksanakan.

Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan sesuai data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) minimal batas kemanjuran yakni 50 persen.

Menurut Penny, hasil evaluasi terhadap data dukung keamanan vaksin dengan nama CoronaVac yang diperoleh dari Turki, Brasil dan Indonesia setelah 3 bulan uji klinis fase 3 dan laporan interim tim riset Universitas Padjajaran, vaksin CoronaVac disebut aman dengan kejadian efek samping ringan hingga sedang. Ringan seperti nyeri pembengkakan di lokasi suntikan, nyeri otot dan demam. Dengan derajat berat, diare hanya 0,1 persen.

Komentar