Cendol Hu

Rabu, 13 Januari 2021 08:00

Disway

Pagi itu saya olahraga dulu. Di halaman depan Graha Pena. Secara salah: pakai topi dan kaus lengan panjang. (Lain kali saya akan unjuk rasa: olahraga tanpa topi, tanpa baju, dan tanpa celana).

Lalu saya cepat-cepat berangkat ke Takeran, Magetan. Bersama istri dan Kang Sahidin. Sarapannya sambil melaju di jalan tol.

Tiba di Takeran, saya gandeng istri ke makam. Berdua saja.

Di situlah kiai saya, Gus Amik, dimakamkan. Akibat Covid-19. Sebulan lalu. Persis di sebelah makam ayah saya. Di dekat situ juga dimakamkan kakak Gus Amik. Yang juga meninggal karena Covid 12 hari kemudian.

Kakak-adik itu adalah cucu guru’ spiritual ayah saya. Bukan hanya cucunya guru, tapi memang juga sepupu saya. Nenek saya adalah adik kandung sang guru.

Bukan hanya ke makam itu yang penting. Tapi rapat pesantren setelah itu. Yakni untuk membicarakan siapa kiai baru yang akan menggantikan posisi Gus Amik.

Leluhur kami mewariskan Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) yang kini membawahkan 120 madrasah di 8 kabupaten sekitar Magetan, di Blora dan di Ciamis.

Pemikiran dari saya paling ditunggu di rapat itu. Terutama karena saya tidak bersedia menjadi pengganti Gus Amik.

Ayah saya berpesan: saya harus mengabdi dan menghormati guru, sampai pun ke anak cucunya. Kalau saya jadi kiai di situ, berarti saya tidak memegang pesan orang tua.

Komentar


VIDEO TERKINI