Cendol Hu

Rabu, 13 Januari 2021 08:00

Disway

Ayah saya memang penganut tarekat satariyah. Sang guru adalah mursyid (pemimpin spiritual) satariyah. Di umur 15 tahun pun saya sudah dibaiat untuk ikut menapaki jalan spiritual itu; yakni mencari “sangkan-paraning-dumadi” lewat dzikir ‘hu yang banyak dicaci-maki ustad masa kini, tapi dibela dengan baik oleh ulama seperti Gus Baha’ —lewat YouTube-nya yang sangat populer itu.

Hidup ini dari mana dan hendak ke mana.

Saya sempat bersama Gus Amik keliling Jawa Barat. Ke Pamijahan. Ke Panjalu. Ke Buntet. Ke Benda. Mendalami asal usul aliran tarekat yang sangat dekat dengan kebatinan Jawa ini.

Saya juga bertemu seorang doktor yang disertasinya tentang satariyah. Saya pun tahu: Islam mulai mengalami benturan spiritual setelah melebar ke wilayah non-Arab.

Misalnya ketika Islam melebar ke Parsi —yang merasa peradabannya lebih tinggi dari Arab.

Lebih utama lagi ketika Islam melebar sampai ke India —yang di zaman itu jauh lebih kaya dari negara-negara Arab —yang belum menemukan minyak bumi. India juga merasa mempunyai peradaban lebih tinggi dari Arab.

Maka jamaah haji dari India (waktu itu Pakistan masih di dalam India) begitu menguasai Makkah. Dan Madinah. Dengan filsafat pemikiran yang berbeda dengan yang di Arab. Juga dengan harga diri yang tidak kalah tinggi.

Maka terjadilah benturan pemikiran filsafat keagamaan. Antara Arab dan non-Arab. Satariyah adalah salah satu hasil dari benturan-benturan pemikiran itu.

Komentar