Cendol Hu

Rabu, 13 Januari 2021 08:00

Disway

Gus Amik punya dua anak laki-laki. Yang pertama berkarir di perusahaan besar. Yang kedua baru lulus fakultas hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta. Kebetulan yang kedua itu pendidikan agamanya Ibtidaiah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Maka saya ajukan ia menjadi pengganti ayahnya. Saya juga minta agar ia melanjutkan S-2 di India. Agar meraih gelar master di salah satu universitas Islam tertua di dunia: Aligarh University. Tidak jauh dari Taj Mahal, Agra. Kebetulan saya punya teman aktivis muslim di Agra.

“Kenapa tidak di Timur Tengah?” tanyanya.

“Sudah terlalu banyak yang lulusan Timur Tengah,” jawab saya.

Yang tidak saya katakan padanya adalah: agar kiai baru ini pernah merasakan hidup sebagai minoritas. Bahkan minoritas yang lagi tertekan seperti di India saat ini.

Yang juga tidak saya katakan adalah: agar ia mendalami benturan-benturan pemikiran di sana.

Semua peserta rapat pun setuju. Bahkan ada yang usul rapat hari itu langsung memutuskannya. Tapi karena pengangkatan itu perlu legalitas lebih luas disepakati perlu forum yang lebih resmi: 30 Januari depan.

Rapat hari itu sebenarnya sudah memperhatikan protokol kesehatan. Lokasinya di aula besar pesantren. Yang hadir dibatasi hanya 30 orang. Tempat duduknya sangat berjauhan. Semua memakai masker. Tidak ada suguhan minuman. Pun makanan.

Komentar