Ribka Tjiptaning Menolak Divaksin Covid, Teddy Gusnaidi Duga Salah Baca Berita

Kamis, 14 Januari 2021 22:13

Ribka dan Teddy

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Teddy Gusnaidi menanggapi sikap anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Ribka Tjiptaning yang menolak disuntik vaksin Covid-19.

Teddy menyebut Ribka Tjiptaning menolak divaksin Covid-19 karena punya alasan tersendiri.

“Bu Ribka Tjiptaning menolak divaksin, tentu ada alasannya, gak mungkin beliau menolak tanpa ada alasan. Saya coba membaca alasan beliau di media. Dari sekian banyak alasan, intinya ternyata beliau tidak mau divaksin karena menurut beliau Bio Farma belum uji klinis ke tiga,” kata Teddy melalui akun Twitter pribadinya, @TeddyGusnaidi, Kamis (14/1).

Teddy menilai, uji klinis ketiga adalah pengujian lanjutan saja, karena pengujian sebelumnya baik di Indonesia maupun di beberapa negara hasilnya aman.

Dikatakan Teddy, dari pengujian tahap 3 itu memang ada efek samping ringan, tapi tidak berbahaya dan dapat segera pulih. Itu pun secara prosentase hanya 0,1-1%.

“Tahap 3 itu apa sih? tahap internal untuk memastikan efektivitas dan keamanan vaksin, karena setelah mendapatkan izin produksi dari BPOM maka Bio Farma wajib menjaga mutu dari vaksin yang diproduksi. Itu tahap 3, dimana menguji vaksin yang telah didistribusikan sebelumnya ke 34 provinsi,” katanya.

Teddy menganalogikan uji klinis tahap tiga itu seperti penyajian mie instan di warung.

“Analoginya begini, saya buka warung mie instan. Mie instan ini sudah ada bumbunya, bumbunya ini tidak perlu saya teliti lagi sebelum saya jualan, karena sudah lolos BPOM. Tidak mungkin saya bisa jualan mie instan kalau tidak lolos BPOM. Begitupun Bio farma, tidak akan produksi,” katanya.

“Karena saya sudah jualan, maka saya harus memeriksa bahwa mie instan yang disajikan ke pelanggan, bumbunya dimasukin semua, bukan setengah. Dan jangan sampai mie direbus terlalu lembek, karena tidak disukai oleh pelanggan. Ini lebih ke proses penyajian bukan soal kualitas bumbunya,” sambung Teddy.

Kalau soal bumbunya, kata Teddy, sudah lolos dari BPOM sehingga tidak berbahaya, ini masalah menjaga kualitas rasa dan penyajian. Jika bumbunya dipakai full maka sesuai rasanya, jika tidak dipakai full, maka rasanya tidak sesuai, tapi tidak membahayakan, karena bumbunya memang tidak berbahaya.

“Nah Bu Ribka tidak mau disuntik vaksin karena menunggu hasil penelitian warung mie instan terhadap bumbu mie instan, apakah bumbu itu berbahaya atau tidak? Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi, karena yang melakukan penelitian itu BPOM bukan warung dagang mie instan,” beber Teddy.

Menurut Teddy, itu hanya tahapan untuk mendapatkan izin edar selanjutnya setelah sebelumnya mengedar 700 ribu vaksin.

Kalau vaksin itu berbahaya, kata Teddy, tentu Bio Farma tidak disuruh memproduksi dan mengedarkan. Karena Vaksin ini sudah lolos dari BPOM dan WHO, jadi ini bukan proses dari nol.

“Mungkin Bu ribka kurang update dan salah baca berita, sehingga beliau menunggu hasil penelitian warung mie instan terkait bumbu mie instan. Padahal bumbu itu sudah lolos dari penelitian dan tidak berbahaya. Harus ada yang ingatkan beliau, agar supaya beliau paham,” tandas Teddy Gusnaidi.

Sebelumnya, Anggota Komisi IX DPR dari PDIP Ribka Tjiptaning menolak untuk mengikuti program vaksinasi Covid-19.

Penulis buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI” itu mengisyaratkan masih meragukan keamanan dari vaksin Sinovac tersebut.

“Soal vaksin, saya tetap tidak mau divaksin meskipun sampai yang usia 63 tahun bisa divaksin,” kata Ribka dalam Rapat Kerja Komisi IX dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang digelar daring, Selasa (12/1).(one/pojoksatu)

Komentar