Selamat Setelah Dua Belas Jam Terjebak di Reruntuhan

Selasa, 19 Januari 2021 17:17

H Sabar korban gempa di Mamuju yang selamat setelah tertimbun reruntuhan. Foto Ilham Wasi/Fajar

Kisah Korban Bencana, Kehilangan Lima Keluarga

Mereka yang selamat dari reruntuhan bangunan akibat gempa. Setelah terjebak cukup lama.

ILHAM WASIMamuju

Pagar rumah bercat warna keemasan dipadu dengan krem dan hitam, masih kokoh berdiri di Jalan Monginsidi, Kelurahan Rimuku, Kabupaten Mamuju, Minggu, 17 Januari. Warna pagar itu memadu dengan cat rumah. Rumah berlantai empat itu kini tersisa puing-puing rerentuhan.

Di lokasi inilah, tim Basarnas mengevakuasi delapan orang, Jumat lalu. Lima yang meninggal dan tiga yang selamat. Proses evakuasi ini membekas dalam ingatan Haji Sabar. Sang pemilik rumah. Lelaki yang memiliki lima anak ini bisa selamat setelah dua belas jam lamanya terjebak di bawah reruntuhan. Ingatan tentang detik-detik datangnya gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter (SR), Jumat, 15 Januari, dini hari.

Di rumah itu, mereka delapan orang. Di kamar sepuluh kali sepuluh meter persegi, kamar Sabar, mereka bertujuh –dengan ketiga anaknya dan tiga cucunya. Sementara Hj Cammono yang juga keluarganya berada di rumah itu, tetapi di ruang berbeda.

Ketika mereka terlelap. Gempa itu datang. Seketika rumah berlantai empat ini ambruk. Mereka pun terjebak di reruntuhan. Gempa yang telah membuatnya harus kehilangan anak dan cucunya. Adapun ketiga anaknya yakni, Ririn, Suarti, Dian dan dua cucunya yaitu, Nabila dan Keisa meninggal dalam peristiwa itu.

Sementara Sabar bersama cucunya, Naila, dan Cammono yang juga kerabatnya ditemukan selamat. Duka ini adalah duka kedua bagi Sabar, apalagi belum cukup setahun, istrinya, Hj Rugayah meninggal karena kecelakaan.

“Lima orang yang meninggal. Anak dan cucuku. Perempuan semua. Anak-anakku memang kalau datang pasti di kamar itu. Kan luas ada AC-juganya. Mereka suka karena dingin.” Kisah Sabar saat ditemui di Jalan Monginsidi, Kelurahan Rimuku, Kabupaten Mamuju, Minggu, 17 Januari, sore hari.

Baginya, tak ada tahu kapan datangnya bencana. Bahkan, dia tak pernah berpikir ditemukan selamat. Apalagi melihat kondisi rumah yang ambruk. Porak-poranda.

“Bilang semua orang meninggal ka. Meninggal mi ini Usaha Rappang,” ungkapnya menirukan perkataan orang-orang terhadap lelaki pemilik Usaha Rappang ini.

Apalagi, saat Sabar ingin diselamatkan, kaki Sabar terjepit retuntuhan. Tim penyelamat kesulitan mengevakuasi di balik reruntuhan. Hanya celah sedikit. Sabar pun meminta bor, berupaya melepaskan kaki kanannya yang terjepit. Kakinya lolos, penyelamat sisa menggali reruntuhan agar ada celah untuk mereka dievakuasi. Alhasil, dia dan cucu yang berada didekapnya selamat. “Ini lukanya.” Sabar menunjuk luka gores di kaki kanannya yang memerah.

Iin Syarif, putra kedua Sabar bersyukur ayahnya dan keluarga masih ada yang selamat. Proses penyelematan ayahnya memang cukup lama. Dua belas jam, katanya. Sejak gempa 02.28 wita, dia baru dievakuasi sekitar pukul 14.00 Wita lewat.

Bahkan, saat mau diselamatkan, kaki ayahnya saat itu terjepit direkomendasikan agar diamputasi, tetapi dia menolak. Pelbagai cara pun dilakukan tim penyelamat hingga akhirnya ayahnya selamat. “Karena saya pikir, saya bisa selamatkan orang tua saya dengan utuh kakinya. Tolong diluruskan ini juga, karena ada yang bilang ada delapan yang meninggal. Yang benar itu hanya lima. Saudara saya tiga dan kemanakan saya dua,” ungkap pria yang juga adik Sapriadi ini.

Sabar merupakan salah satu korban gempa yang selamat dan rumahnya yang rusak parah. Di daerah lain, seperti di Malunda, Kabupaten Majene, juga ada Tasmin. Lelaki 43 tahun ini, juga kehilangan rumah yang baru dibangun setahun lalu itu. Dindingnya hancur dan tersisa adalah atap. Akan tetapi, dia bersyukur, istri dan ketiga anaknya yang bis dia selamatkan. (*)

Komentar


VIDEO TERKINI