Sudah 136 Bencana di Awal 2021, 6 Bencana Besar Terjadi Berurutan

Selasa, 19 Januari 2021 14:35

Kantor Gubernur Sulawesi Barat ambruk diguncang gempa. Foto IST

JAKARTA – Di awal tahun 2021, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, telah terjadi total 136 bencana di seluruh Indonesia.

Itu merupakan catatan sampai dengan 16 Januari 2021 atau baru memasuki pekan ketiga bulan Januari 2021.

Dari jumlah bencana itu, disebutkan telah merenggut total 80 orang meninggal dunia dan 19 orang lainnya dinyatakan hilang.

Sementara 858 orang mengalami luka dan 405.584 warga mengungsi.

Di sisi lain, dicatat juga bahwa terdapat 71 rumah rusak berat, 60 rusak sedang, dan 778 rusak ringan.

Dicatat juga sejumlah fasilitas umum rusak. Seperti fasilitas pendidikan (1), fasilitas peribadatan (6), dan fasilitas kesehatan (2).

Sedangkan 2 kantor pemerintahan dan 8 jembatan juga dilaporkan rusak.

Berdasarkan laman bnpb.go.id, tercatat bencana di awal 2021 didominasi banjir yang terjadi di 95 wilayah.

Selanjutnya tanah longsor 25 lokasi, puting beliung 12 lokasi, gempa bumi dan gelombang pasang masing-masing 2 lokasi.

Di sisi lain, berdasarkan peta kebencanaan, Jawa Timur menjadi yang terbanyak dengan terdapat 24 kejadian.

Disusul Jawa tengah dengan 20 kejadian, Jawa Barat dan Aceh masing-masing 16 kejadian.

Lalu Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Barat dengan 11 kejadian.

Selebihnya, masing-masing daerah melaporkan bencana alam di bawah 10 kejadian.

Namun, setidaknya ada enam bencana di awal 2021 yang dicatat PojokSatu.id menjadi bencana besar dan menyita perhatian publik.

Berikut daftar 6 bencana besar yang terjadi di awal 2021:

  1. Gunung Semeru Meletus

Gunung Semeru tercatat sejak 1-15 Januari terus menunjukkan aktivitas letusan. Terbaru, hari ini, Senin (18/1), Gunung Merapi kembali memuntahkan awan panas guguran (APG).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, APG dengan jarak luncur kurang lebih 1000 meter ke arah Barat Daya (K Krasak) pada Senin (18/1) pukul 05.43 WIB.

APG tercatat dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 112 detik melalui pengamatan seismogram.

Pengamatan visual sementara, teramati tinggi kolom 50 meter di atas puncak serta arah angin bertiup ke tenggara.

Selain itu, teramati enam kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimum 600 meter ke arah barat daya.

Masyarakat diminta agar selalu mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Merapi.

Selanjutnya, radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

  1. Sriwijaya Air SJ182 Jatuh

Pada Sabtu (9/1) siang, publik dikejutkan dengan kabar pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang hilang kontak usai sekitar 14 menit lepas landas.

Pesawat rute Jakarta-Pontianak itu terakhir hilang kontak di perairan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, pukul 14.40 WIB.

Pesawat itu membawa penumpang 46 dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi, pilot-kopilot, satu petugas keselamatan penerbangan dan tiga awak kabin.

Beberapa jam usai kabar tersebut, dipastikan bahwa pesawat jatuh.

Sampai dengan Senin (18/1) pagi, Tim Disaster Victim Identification (DVI) sudah berhasil mengidentifikasi 29 korban.

Komandan DVI Pusdokkes Polri Kombes Hery Wijatmoko mengatakan bahwa dari jumlah tersebut, pihaknya sudah menyerahkan 15 jenazah kepada keluarga korban.

“Update teridentifikasi, kami telah melakukan identifikasi sebanyak 29 korban, dan 15 (jenazah) di antaranya sudah diserahkan ke keluarga,” kata Hery di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sementara, 14 jenazah lainnya belum diserahkan Tim DVI karena masih menunggu persetujuan pihak keluarga korban.

19 korban Sriwijaya Air SJ182 yang sudah teridentifikasi yakni, Rosi Wahyuni perempuan (51), Rizki Wahyudi laki-laki (26), Nelly perempuan (49), Beben Sopian laki-laki (58).

Kemudian Okky Bisma laki-laki (29), Fadly Satrianto laki-laki (39), Khasanah perempuan (50), Asy Habul Yamin (36), Indah Halimah Putri (26), dan Agus Minarni perempuan (47).

Selanjutnya, Ricko laki-laki (32), Ihsan Adhlan Hakim laki-laki (33), Supianto laki-laki (37), Pipit Piyono (23), Mia Tresetyani (23), dan Yohanes Suherdi (37).

Lalu, Fao Nuntius Zai bayi berumur 11 bulan, Yunni Dwi Saputri (34), Iu Iskandar (52), Oke Dhurrotu (24) serta satu jenazah yang lainnya yang tidak dipublikasikan identitasnya lantaran permintaan dari keluarga korban.

  1. Longsor Cimanggung Sumedang

Sehari setelah pesawat Sriwijaya Air SJ182 jatuh, publik dikejutkan dengan longsor di Desa Cihanjuang, Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Minggu (10/1).

Namun, longsor itu sejatinya terjadi pada Sabtu (9/1) malam.

Diyakini, banyak korban tertimbun lantaran saat itu ada salah seorang warga yang sejatinya hendak menyelenggarakan hajat pernikahan.

Sampai dengan Minggu (17/1) malam, Tim SAR Gabungan sudah berhasil mengevakuasi sebanyak 32 korban tertimbun longsor.

Sementara delapan korban lainnya hingga saat ini masih dalam pencarian.Sudah 136 Bencana di Awal 2021, 6 Bencana Besar Terjadi Berurutan, Ini DaftarnyaNasional GURUH PERMADIKantor Gubernur Sulawesi Barat ambruk diguncang gempa. Foto ISTKantor Gubernur Sulawesi Barat ambruk diguncang gempa. Foto IST

Kemarin, Tim SAR Gabungan menemukan dua korban berjenis kelamis perempuan dalam keadaan meninggal dunia.

  1. Banjir Bandang Kalimantan Selatan

Banjir di Kalimantan Selatan yang terjadi Kamis (14/1) sore, diduga akibat curah hujan tinggi sejak sejak Selasa (12/1) sehingga sungai-sungai meluap.

Banjir tersebut merendam setidaknya delapan wilayah.

Di antaranya, Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Lalu, Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupataen Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Batola.

Hal ini berdasarkan data terakhir yang dihimpun pada 17 Januari 2021 pukul 14.00 WIB.

BNPB mencatat, sebanyak 24.379 rumah terendam banjir dan 39.549 warga mengungsi.

Rinciannya, Kabupaten Tapin sebanyak 582 rumah terdampak dan 382 jiwa mengungsi.

Kabupaten Banjar 6.670 rumah terdampak dan 11.269 jiwa mengungsi.

Kota Banjar Baru 2.156 terdampak dan 3.690 jiwa mengungsi, serta Kota Tanah Laut 8.506 rumah terdampak dengan 13.062 jiwa mengungsi.

Selanjutnya Kabupaten Balangan sebanyak 1.154 rumah terdampak dengan 17.501 jiwa mengungsi.

Kabupaten Tabalong 407 rumah dengan 770 jiwa terdampak dan mengungsi, Kabupaten Hulu Sungai Tengah 11.200 jiwa mengungsi dan 64.400 jiwa terdampak.

Kabupaten Hulu Sungai Selatan 387 rumah terdampak dan 6.690 jiwa mengungsi, Kota Banjarmasin dengan 716 jiwa terdampak, Kabupaten Batola 517 rumah dan 28.400 jiwa terdampak.

Sementara, korban meninggal sampai berita ini ini ditulis sudah mencapai 15 orang.

Rinciannya, Kabupaten Tanah Laut 7 orang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah 3 orang, Kota Banjar Baru 1 orang, Kabupaten Tapin 1 orang, dan Kabupaten Banjar 3 orang.

  1. Gempa Sulawesi Barat

Jumat (15/1) dini hari, Sulawesi Barat diguncang gempa yakni pukul 01.28 Wita dengan kekuatan magnitudo 6,2.

Getaran gempa itu meluluh lantakkan dua kebupaten sekaligus. Yakni Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene.

Kepala Pusat Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggunglangan Bencana (BNPB), Raditya Jati menyatakan, sampai saat ini, jumlah korban meninggal dunia sudah mencapai 81 orang.

Rinciannya, 70 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan 11 korban lainnya di Kabupaten Majene.

Itu berdasarkan data sampai dengan Senin (18/1/2021) pukul 02.28 Wita.

Sementara, sampai dengan Minggu (17/1) malam, dicatat sebanyak 1.150 rumah rusak dan 15 sekolah terdampak.

“Dan masih terus dalam proses pendataan,” ujarnya.

Sampai saat ini, BPBD Kabupaten Majene, Mamuju dan Polewali Mandar masih terus melakukan pendataan dan pendirian tempat pengungsian.

“Selain itu, juga masih terus dilakukan proses pencarian dan evakuasi korban,” sambungnya.

BNPB juga mencatat, korban gempa Sulbar yang mengalami luka-luka tercatat sebanyak 637 korban luka di Kabupaten Majene.

Rinciannya, 12 orang luka berat, 200 orang luka sedang dan 25 orang luka ringan.

“Sedangkan di Kabupaten Mamuju terdapat 189 orang mengalami luka berat atau rawat inap,” ujar Raditya.

Di sisi lain, gempa membuat 19.435 warga terpaksa mengungsi.

Rinciannya, 15.014 orang mengungsi di Kabupaten Mamuju dan 4.421 orang mengungsi di Kabupaten Majane.

Tercatat 25 titik pengungsian di Kabupaten Majene tersebar di Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean.

Lalu Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang serta Desa Limbua yang masih dalam proses pendataan.

Sedangkan di Kabupaten Mamuju terdapat lima titik pengungsian di Kecamatan Mamuju dan Kecamatan Simboro yang masih dalam proses pendataan.

  1. Banjir dan Tanah Longsor Manado

Sabtu (16/1) sekitar pukul 15.09 Wita, Manado, Sulawesi Utara, dilanda banjir sampai dengan ketinggian setengah hingga tiga meter dan tanah longsor.

Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana per Senin (18/1) pukul 09.30 WIB mencatat, 6 orang dilaporkan meninggal dunia.

BNPB juga mencatat sebanyak 500 jiwa mengungsi yang sebagian sudah pulang ke rumah masing-masing.

Selain itu, kerugian materil akibat bencana tersebut antara lain dua unit rumah rusak berat dan 10 unit rumah rusak sedang dan masih dilakukan pendataan lagi.

Harin ini, BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD Kota Manado sendiri melakukan pembersihan material pascabanjir dan tanah longsor.

Banjir dan tanah longsor di Manado itu tercatat membuat sembilan kecamatan terdampak,.

Di antaranya, Kecamatan Tikala, Kecamatan Paal Dua, Kecamatan Malalayang, Kecamatan Sario, Kecamatan Bunaken, Kecamatan Tuminting, Kecamatan Mapanget, Kecamatan Singkil dan Kecamatan Wenang.

Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kota Manado berpotensi mengalami hujan yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan siaga ditengah musim hujan yang akan terjadi di sejumlah wilayah hingga Februari 2021.

(ruh/pojoksatu)

Komentar


VIDEO TERKINI