Korban Gempa Meninggal di Pengungsian, Diduga Karena Kedinginan

Rabu, 20 Januari 2021 19:21

Korban pengungsian yang belum tersentuh bantuan. (Ishak/fajar.co.id)

FAJAR.CO.ID, MAJENE – Satu pengungsi korban gempa di Majene, Sulawesi Barat meninggal dunia. Subaedah, 53 tahun dinyatakan wafat saat masih berada di lokasi pengungsian, Rabu (20/1/2021).

Di bawah tenda sederhana di atas bukit, korban mengungsi bersama sanak keluarganya akibat gempa mengguncang Majene pekan lalu.

Sejak hari pertama mengungsi, Jumat (15/1/2021), Subaedah sudah merasa kedinginan. Batuknya pun tak kunjung berhenti. Terlebih hujan beberapa kali melanda daerah terdampak gempa.

Hingga pada Selasa, (19/1/2021), Subaedah mengembuskan napas terakhirnya. Ia tak mampu lagi melawan penyakit yang ia derita selama mengungsi.

“Betul memang. Almarhumah itu tinggal di pengungsian. Sehari sebelum meninggal, sempat saya tanya dia saat jalan-jalan, apa keluhannya. Katanya sedang kedinginan dan batuk berdahak,” kata Kepala Desa Totolisi Kecamatan Sendana, Majene, Suardi, Rabu (20/1/2021).

Selama mengungsi almarhumah jarang tersentuh bantuan. Maklum, dia dan keluarga besarnya adalah pengungsi mandiri.

“Almarhumah tinggal 2 KK di sana. Belum ada bantuan. Kecuali ada keluarganya yang datang membesuk. Tapi kalau bantuan resmi pemerintah itu tak ada,” jelasnya kepada Fajar.co.id.

Kini almarhumah dimakamkan di tempat pemakaman Islam. Keluarga yang ditinggal merasa mendapat dua bencana. Yakni gempa dan kehilangan orang yang ia cintai.

Hingga saat ini, lanjut Suardi, ratusan warganya masih bertahan atas bukit. Mereka enggan kembali pulang ke rumah, sampai situasi di pesisir pantai benar-benar aman.

Komentar