“Pertengkaran” : Ribka vs Arqam

Rabu, 20 Januari 2021 08:54

Hasrullah

KONTESTASI wacana antara Ribka Tjitaning versus Arqam Azikin, ternyata lebih seru di media sosial. Akibat sanggahan Arqan menyoal Vaksin Covid dengan Ribka dalam panggung politik DPR-RI telah telah ditonton 579 ribu kali ditonton.

Narasi politik yang diluncurkan Arqan merupakan balik dialamatkan kader PDIP yang selama ini vokal dipanggung politik nasional.

Dari sudut pandang teoritis, narasi “pertengkaran” sudah dikenal dalam kajian metode komunikasi politik, terutama analisis kritis terhadap teks (baca ; studi kritis). Maka, kajian isi media kritis seperti yang diungkap Handbook of Political Communication ditulis Nimmo bersama Sander (1981), bahwa pendekatan kritis memandang realitas yang tampak sebagai sebuah Virtual Reality, atau realitas semu.

Kenyataan pertengkaran virtual reality menjadi panas, dan asik untuk diperdebatkan karena membahas soal konstatasi ( gejala atau peristiwa) yang ramai dipersoalkan di ruang publik dan dunia maya. Video perseteruan telah beredar di Youtube telah ditonton ratusan ribu permisa, itu artinya akademisi sekaliber Arqam Azikin telah mampu menohok Ribka politisi kawakan PDIP.

Namun lebih penting dalam analisis teks kritis, yang dipersoalkan Ribka dengan menolak vaksinasi di-endorse Presiden Jokowi yang merupakan usungan partai pendukung telah memenangkan 2 kali perhelatan Pilpres. Apa dipikirkan dan dikatakan Ribka dengan lantang menolak Program Vaksinasi dalam rapat dengar pendapat Komisi IX DPR-RI dengan .Ribka dengan retorik, beliau tidak mau di Vaksin walaupun diberi sanksi dan jika dipaksa itu pelanggaran HAM.

Komentar