Track Record-nya Bertentangan dengan FPI, Pandji Heran Dicap Pro FPI

Minggu, 24 Januari 2021 11:43

Foto: Instagram Pandji Pragiwaksono

FAJAR.CO.ID — Gara-gara isi konten di Channel YouTube-nya yang membandingkan NU dan Muhammadiyah dengan FPI, Pandji Pragiwaksono masih jadi bulan-bulana netizen yang kontra.

Pandji pun kemudian dicap sebagai pendukung atau pro FPI. Soal tudingan ini, Pandji mengaku heran mengapa orang cepat melabelkan dirinya seperti itu.

Padahal track record-nya selama ini cukup bertentangan dengan FPI. Dimana, dirinya beberapa kali menyuarakan agar ada regulasi yang tepat untuk melegalisasikan ganja, juga prostitusi.

“Kepala gue pusing mikirin gimana caranya orangyang pro legalisasi ganja dan regulasi prostitusi disebut pro FPI,” tulisnya di akun Twitter-nya dan juga di Instagram. Dan, sekadar pro keduanya, dirinya juga mengaku, “dan Pro LGBT,” ungkapnya.

Seperti diketahui, si konten YouTube Pandji bersama dua mantan anggota FPI, bertajuk “FPI Dibubarin Percuma? Feat Afif Xavi dan Fikri Kuning” mendadak jadi pembicaraan. Padahal, video itu telah diunggah Pandji di channel YouTube-nya dua minggu lalu.

Ada satu video berisi potongan kalimat Pandji mengutip pernyataan Thamrin Tomagola tentang kondisi di Jakarta, yang kemudian jadi pro dan kontra di media sosial.

“FPI itu dekat dengan masyarakat. Ini gue dengar dari Pak Thamrin Tomagola, dulu tahun 2012,” ujarnya.

Selain itu, Pandji menyebutkan FPI disukai masyarakat kalangan bawah saat para elit dari ormas Islam besar, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dianggap jauh dari masyarakat.

“FPI itu hadir gara-gara dua ormas besar Islam (NU dan Muhamamdiyah) jauh dari rakyat. Mereka elit-elit politik. Sementara FPI itu dekat (dengan masyarakat). Kalau ada yang sakit, ada warga yang sakit mau berobat, enggak punya duit, ke FPI,” jelasnya.

Masih dari pengakuan Tamrin Tomagola, Pandji menjelaskan pintu rumahnya ulama-ulama FPI kebuka untuk warga. “Kadang-kadang FPI ngasih duit, kadang FPI ngasih surat. Suratnya dibawa ke dokter jadi diterima,” timpalnya.

“Nah, yang NU dan Muhammadiyah yang terlalu tinggi dan elitis, warga tuh ngga kesitu, warga justru ke FPI. Makanya mereka pada pro FPI, karena FPI ada ketika mereka butuhkan,” sebutnya.

Di sinilah, Pandji menilai membubarkan FPI tidak menyelesaikan masalah.

“Makanya gue bilang, bubarin FPI itu gampang tapi gak menyelesaikan masalahnya karena FPI menyediakan bantuan ketika rakyat lagi butuh selama elu ga kasi bantuan ketika rakyat lagi butuh, maka rakyat akan cari ormas lain untuk dapat bantuan,” ujarnya. (PojokSatu)

Bagikan berita ini:
1
3
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar