Penerapan Protokol Kesehatan Pasca Gempa, Daerah Terisolir Lebih Patuh

Senin, 25 Januari 2021 17:41

Relawan Baznas saat memeriksa kesehatan pengungsi gempa Sulbar. (Dok. Baznas)

FAJAR.CO.ID, MAMUJU – Penerapan protokol kesehatan di daerah gempa di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) berbeda-beda. Utamanya wilayah perkotaan dan di wilayah terisolir.

Misalnya, saat tim medis yang melakukan penelusuran hingga ke wilayah pelosok di Majene menilai, penerapan protokol kesehatan di desa terisolir sangat berbeda dengan wilayah perkotaan Majene.

Seperti daerah terisolir di Desa Tandeallo, Kecamatan Ulumanda sangat patuh menerapkan protokol kesehatan. Namun di daerah perkotaan Majene justru kurang kesadaran masyarakat menerapkan protokol kesehatan.

“Di sana sangat peduli dengan masker dan antusias sekali datang berobat. Di kota Mamuju sendiri masih minim dengan kesadaran memakai masker masih cuek. Kesadaran cuci tangan masih rendah,” kata Kepala Rumah Sehat BAZNAS Parigi Moutong, dr Kaslan, Senin (25/1/2021).

Saat ia bersama tim medis lainnya membuka layanan kesehatan gratis di sana, warga pun datang secara berbondong-bondong mengeluhkan penyakit yang ia derita.

Meski sempat terjadi kerumunan, seluruh tim medis dam masyarakat di sana memakai masker. Setelah berobat, warga pun pergi agar terhindar dari penyebaran Covid-19 di titik kerumunan.

Kendati demikian, masyarakat terisolir tetap butuh pasokan masker. Masker yang ia gunakan mesti harus diganti jika selesaj dipakai dalam waktu yang cukup lama.

Ia menyebut, selama melayani para pengungsi korban gempa, banyak dari mereka yang diserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Mereka yang diserang penyakit itu mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Penyebabnya, mereka sudah terlalu lama mengungsi dan tidur di bawah tenda dan di pinggir jalan.

Akibatnya, kotoran dan debu dari tanah atau asap knalpot kendaraan yang melintas pun terhirup oleh para pengungsi. Bahkan tak sedikit pula bayi yang juga menghirup udara kotor tersebut.

“Penyakit paling banyak Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, sakit kepala, sakit di badan, itu yang paling banyak,” jelasnya.

Persediaan air bersih bagi para pengungsi di pinggir jalan juga menjadi masalah. Apalagi MCK yang selama ini jadi kebutuhan pengungsi setiap hari.

“Iya (kurang air bersih). Kalau kita lihat kondisi pengungsian memang kurang air bersih, MCK susah. Otomatis tingkat kebersihan di di sini memang rendah,” terang dia kepada Fajar.co.id. (Ishak/fajar)

Komentar


VIDEO TERKINI