Sempat Disangka Gila, Sebulan Kantongi Rp100 Juta dari Air Liur Walet

Senin, 25 Januari 2021 14:42

UNTUNG BESAR Masyarakat Desa Soga, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, menyulap rumah tinggal mereka menjadi sarang nyaman bagi burung walet. (ASRIADI/FAJAR)

Suara burung walet memenuhi sudut ruang sebuah bangunan bertingkat di Desa Soga. Terkadang suaranya terdengar nyaring.

Laporan: ASRIADI (Soppeng)

FAJAR.CO.ID — Di Kabupaten Soppeng, sejumlah warga menjadi pengusaha sarang burung walet. Mereka berlomba membangun gedung bertingkat. Lengkap dengan sound system dan kaset suara walet. Gunanya untuk memancing agar burung berliur emas itu bisa hinggap di gedung.

Warga memang secara khusus membangun rumah untuk menjadi sarang walet. Ada juga yang menyulap rumahnya, membuat lantai atas sebagai tempat nyaman bagi walet.

Bahkan, ada satu desa menjadi sentra walet. Namanya, Desa Soga di Kecamatan Marioriwawo. Di desa ini, puluhan gedung rumah walet berjajar rapi. Mulai dari ukuran kecil 4×10 meter persegi, hingga ukuran besar 20×20 meter persegi bertingkat enam plus rumah monyet.

Secara otomatis, harga tanah di sana ikut melonjak drastis. Satu kapling tidak ada di bawah Rp50 juta. Mau tak mau, lokasi ini menjadi incaran investor dari luar. Untuk satu lokasi perumahan biasanya ditawari Rp100 juta sebagai tempat membangun rumah burung walet.

Warga bekerja sama dengan investor dari Jawa. Sistemnya bagi hasil. Sementara yang punya modal sendiri, membangun secara mandiri.”Kita kerja sama dengan investor asal Jawa. Dia bangun gedung, kita hanya siapkan lahan,” ungkap Arif, salah satu warga.

Komentar