Kisah Amir, Lihat Pemakaman Ibunya yang Kekurangan Kain Kafan Pascagempa

Selasa, 26 Januari 2021 16:03

Ilustrasi pemakaman

FAJAR.CO.ID, MAJENE – Namanya Masita, 60 tahun. Dia menjadi korban gempa berkekuatan 6,2 magnitudo di Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) yang mengguncang pada 15 Januari lalu.

Dia tertimpa reruntuhan bangunan rumah tetangganya saat sedang mengungsi, pasca gempa pertama mengguncang Majene yang berkekuatan 5,9 magnitudo.

Jenazah Masita pun dimakamkan di tempat pemakaman umum yang tak jauh dari lokasi kejadian, Desa Mekatta, Kecamatan Malunda.

Anak almarhum, Amir Kali, mengatakan, saat dimakamkan, jenazah ibu kandungnya itu sangat kekurangan kain kafan. Terpaksa Amir harus mengambil sepotong kain mukenah lalu dibalut ke tubuh ibunya itu.

“Mama yang meninggal namanya Masita. Memang meninggal waktu gempa yang kedua kali. Dikubur pakai kafan tapi tidak cukup. Jadi selebihnya pakai kain mukenah,” katanya, Selasa (26/1/2021).

Saat kejadian, lanjut Amir, memang dirinya serba kekurangan. Selain makanan dan tenaga medis, kain kafan untuk para korban gempa pun demikian.

Itu pun kain kafan yang dipakai adalah pemberian tetangganya, yang ukurannya tak sesuai dengan panjang tubuh jenazah ibu kandungnya.

Namun karena tak ada jalan lain, kain kafan itu tetap dipakai untuk membungkus jenazah ibunya lalu ditambah dengan kain mukenah yang ada.

Ia menceritakan, awalnya dia sudah memberitahukan ibunya untuk pulang ke rumah karena pontensi tsunami pasca gempa pertama itu tidak ada.

Komentar