Pelaku Kekerasan Seksual Incar Disabilitas, Sudah 14 Kasus di Sulsel

Rabu, 27 Januari 2021 21:17

Wakil Ketua LPSK, Livia Iskandar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyoroti kasus kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas di Makassar beberapa hari lalu.

Wakil Ketua LPSK, Livia Iskandar mengatakan, hingga saat ini sedang memberikan perlindungan kepada sebanyak 14 korban tindak pidana, dengan status penyandang disabilitas selama tahun 2020-2021.

“Sebagian besar dari mereka yang kami lindungi merupakan korban kekerasan seksual,” ungkapnya, Rabu (27/1/2021).

Menurut data yang dimiliki LPSK, beberapa kasus kekerasan seksual di Sulawesi Selatan kerap menarget kaum disabilitas dan dilakukan secara beramai-ramai.

“Kami menemukan kasus korban disabilitas rungu-wicara diperkosa beramai-ramai (gang rape) di Soppeng dan Makassar. Ada juga disabilitas rungu-wicara yang diperkosa tetangganya sampai hamil dan melahirkan di Makassar, ada juga korban anak disekap dan diperkosa berhari-hari di Enrekang,” ujarnya.

Livia juga mengingatkan, soal berbahayanya predator kekerasan seksual, yang melakukan aksinya di dunia maya.

“Mereka perlu diwaspadai mengingat pada masa pandemi banyak aktivitas anak yang dibatasi untuk keluar rumah, orang tua perlu mengawasi ketat aktivitas anaknya dalam menggunakan internet,” tutup Livia.

Sebelumnya diberitakan, Unit Jatanras Polrestabes Makassar menangkap dua pria berinisial WR (17) dan GU usai memerkosa penyintas disabilitas yang masih di bawah umur di Kota Makassar.

Kasubag Humas Polrestabes Makassar Kompol Supriady Idrus menyebut bahwa kedua pelaku tersebut ditangkap di Jalan Muhammad Yamin, Kecamatan Makassar, Selasa (19/1/2021) malam.

Tak hanya memerkosa, pelaku juga memeras orang tua korban dengan cara mengancam menyebarkan video pemerkosaan tersebut.

LPSK mengecam keras tindakan kekerasan seksual terhadap perempuan difabel di bawah umur, yang dilakukan oleh tiga orang pria di Kota Makassar.

Langkah pihak kepolisian yang langsung memburu, dan telah menangkap pelaku perlu mendapat apresiasi.

LPSK sendiri telah melakukan tindakan proaktif kepada korban anak, dengan menyambangi kediamannya untuk menawarkan perlindungan.

Dalam pertemuan dengan keluarga korban, dapat disimpulkan bahwa korban membutuhkan perlindungan ekstra, dan sangat membutuhkan pendampingan, dalam menjalani proses hukum ke depan.

“Kami lega keluarga korban bersedia untuk mengajukan perlindungan kepada LPSK, selanjutnya kami akan langsung telaah permohonan perlindungannya,” ujarnya.

Livia menyatakan, kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak penyandang disabilitas perlu mendapatkan atensi khusus dari seluruh pihak. (ikbal/fajar)

Komentar