Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Kamis, 28 Januari 2021 17:23

Oleh: Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.DMantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat kampanye pencalonan presiden, Joe Biden memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan renewable energy, seperti halnya electric vihicle/EV( kendaraan listrik).

Jika menjadi presiden AS, Biden akan mendorong peralihan transportasi pribadi dari kendaraan berbahan bakar BBM ke EV. Untuk mewujudkan rencana itu, Biden akan membangun 500 ribu pengisi daya EV dan meningkatkan investasi di baterei listrik dan teknologi pendukungnya hingga USD 5 miliar dalam lima tahun ke depan. Bahkan Biden juga akan mendorong investasi besar untuk membiayai R & D dan pengembangan EV ini.

Sebagai negara konsumen minyak dan gas (migas) terbesar di dunia dan juga salah satu produsen migas terbesar, rencana Biden tentunya patut dicermati. Akankah kebijakan Amerika di sektor energi akan mengubah peta konsumsi migas, mengingat ini saat migas masih menjadi sumber energi utama di sana.

Jika menyimak proyeksi OPEC, sampai tahun 2040 nanti kehadiran EV akan mengkonversi penggunaan BBM sekitar 6 juta barel per hari di seluruh dunia. AS akan menjadi negara yang paling banyak mengganti (replacement) energi BBM ke listrik tersebut, mengingat populasi EV diprediksi menjadi yang terbesar di dunia.

Komentar