Polsek Sungai Pagu Diserang, Neta S Pane Bilang Pembenahan Polsek Jadi Tugas Berat Kapolri

Jumat, 29 Januari 2021 11:51

Kantor Polsek Sungai Pagu usai dilempari massa. (Antara/Istimewa)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Penyerangan Polsek Sungai Pagu menjadi tantangan awal Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang baru saja dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden Jokowi.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane prihatin terjadinya peristiwa perusakan massa terhadap Polsek Sungai Pagu, Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar).

Terlebih lagi, kata Neta, peristiwa itu terjadi pada Rabu (27/1) pukul 15.30 WIB atau beberapa jam setelah Presiden Jokowi melantik Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri baru.

Menurut dia, Sigit baru saja mencanangkan polsek tidak boleh lagi menangani kasus, tetapi hanya menjadi pembina dan pengendali keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Ironi, (Listyo Sigit) baru beberapa jam dilantik sebagai Kapolri dan membawa konsep polsek paradigma baru, Markas Polsek Sungai Pagu di Sumbar sudah dirusak 200 massa. IPW melihat tantangan Kapolri Sigit untuk membenahi polsek menjadi tugas berat,” kata Neta dalam keterangannya, Jumat (29/1).

Menurut dia, tak pelak penyerangan Polsek Sungai Pagu ini menjadi sebuah ironi dan sekaligus tantangan bagi kapolri baru.

Neta menegaskan, bagaimanapun konsep baru kinerja polsek yang digagas Kapolri Sigit perlu ditata dengan komperhensif. Menurut dia, hal itu supaya jajaran Polsek menjadi lebih peka dengan deteksi dini, sehingga bisa segera mengantisipasi situasi yang ada baik di saat maupun pascamelakukan tindakan.

Ia menegaskan dengan kepekaan dan antisipasi yang tinggi, polsek tidak lagi menjadi bulan-bulanan amuk massa.

“Dan program Polsek Paradigma Baru yang digagas Kapolri Sigit bisa berjalan maksimal dan membawa Polri benar-benar Presisi (prediktif, responsibilitas, transparansi berkeadilan),” katanya.

Neta menjelaskan di Polsek Sungai Pagu bermula dari penangkapan tersangka DC, buronan kasus perjudian yang juga diduga sering memalak warga.

Menurutnya, saat ditangkap tersangka DC perlawanan dengan cara menyerang petugas dengan sebilah senjata tajam. Salah seorang polisi ditusuknya hingga bagian tangan dan bagian tubuh lainnya luka-luka.

Ia menuturkan, karena membahayakan petugas, polisi melepaskan tembakan ke arah pelaku guna melumpuhkannya. Tembakan mengenai bagian kepala pelaku. Akhirnya, pelaku dinyatakan meninggal dunia di RSUD Solok Selatan. Kematian tersangka ini memicu amarah keluarga dan kerabat pelaku.

Mereka lalu ramai-ramai mendatangi Polsek Sungai Pagu. Lalu melempari Mapolsek dengan batu hingga benda keras lainnya. Ada sekitar 200 orang lebih yang menyerang Polsek.

Akibat penyerangan ini, ruangan penjagaan dan tempat penerimaan laporan atau pelayanan masyarakat rusak berat. Semua kaca pada ruangan itu rusak berat. Meski demikian, fasilitas lainnya hingga kedaraan yang terparkir di halaman Mapolsek tidak ada yang mengalami kerusakan.

Setelah menyerang Mapolsek Sungai Pagu, massa memblokade jalan penghubung Padang Aro-Muara Labuh. Ruas jalan yang diblokade itu merupakan jalan lintas utama yang menghubungkan Sumbar dengan Kerinci, Jambi.

Neta menegaskan kasus ini harus menjadi pembelajaran bagi Kapolri Sigit yang hendak menggagas Polsek paradigma baru. Dari kasus ini, ia menegaskan, bisa terlihat bagaimana kemampuan deteksi dini jajaran Polsek dalam menghadapi sebuah peristiwa.

Sejauh mana aparatur polsek bersikap terlatih dalam menghadapi tersangka. Lalu sejauh mana aparatur Polsek taat SOP (standar operasional prosedur) yang sudah menjadi ketentuan baku di Polri.

“Lalu sejauh mana aparatur taat hukum bahwa tugasnya adalah melumpuhkan tersangka dan bukan menjadi algojo, yang main tembak kepala saat hendak melumpuhkan tersangka,” kata Neta.

Ia mengatakan, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kasus ini yang harus menjadi bahan evaluasi Kapolri Sigit. “Dari kasus Polsek Sungai Pagu ini, sebelum menjalankan konsep Polsek paradigma baru, Kapolri Sigit perlu mengevaluasi kualitas aparatur Polsek untuk melatih mereka agar profesional dan benar-benar terlatih menjadi anggota kepolisian di ujung tombak Polri,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Kapolri Sigit perlu juga mengevalusi persenjataan semua anggota Polsek agar diketahui kualitasnya. “Sehingga, senjata itu benar-benar bisa presisi. Jangan mau menembak kaki yang kena malah kepala,” katanya.

Dalam kasus Polsek Sungai Pagu ini, kata Neta lagi, siapa pun yang melakukan pelanggaran hukum dan bertindak semena-mena harus diseret ke pengadilan.

“Baik itu anggota polisi maupun anggota masyarakat yang anarkistis,” kata Neta. (jpnn/fajar)

Komentar


VIDEO TERKINI