Militer Kudeta dan Tahan Aung San Suu Kyi, Joe Biden Ancam Sanksi Myanmar

Selasa, 2 Februari 2021 09:32
Belum ada gambar

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menandatangani 15 kebijakan baru pada hari pertamanya berkantor di Ruang Oval Gedung ...

FAJAR.CO.ID, WASHINGTON — Militer Myanmar melakukan kudeta terhadap pemerintahan demokratis, Senin (1/2) pagi, dan menahan penasihat negara Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, beberapa politisi partai pemenang pemilihan umum Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), serta sejumlah aktivis.

Menyikapi hal itu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada Senin (1/2) mengancam memberlakukan kembali sanksi terhadap Myanmar.

Biden mengutuk militer yang mengambil alih kekuasaan pemerintahan yang dipimpin sipildan menyebut hal itu sebagai “serangan langsung terhadap peralihan negara menuju demokrasi dan kekuasaan berdasar hukum.”

Krisis Myanmar merupakan ujian besar pertama atas janji Biden untuk lebih banyak berkolaborasi dengan sekutu mengatasi tantangan internasional, terutama pada pengaruh China yang meningkat, bertolak belakang dengan pendekatan “America First” yang sering dilakukan sendiri oleh mantan Presiden Donald Trump.

Kutukan Itu juga mewakili keselarasan kebijakan yang jarang antara sesama politisi Demokrat dan politisi utama Republik ketika mereka bergabung dalam mengecam kudeta dan mendesak militer Myanmar menghadapi konsekuensi.

“Komunitas internasional harus bersatu dalam satu suara untuk menekan militer Burma agar segera melepaskan kekuasaan yang mereka rebut, membebaskan para aktivis dan pejabat yang mereka tangkap,” kata Biden dalam sebuah pernyataan.

“Amerika Serikat mencabut sanksi terhadap Burma selama dekade terakhir berdasarkan kemajuan menuju demokrasi. Pembalikan kemajuan itu akan membutuhkan tinjauan segera atas undang-undang dan otoritas sanksi kami, diikuti dengan tindakan yang tepat,” katanya.

Bagikan berita ini:
7
8
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar