Bandingkan Valas dan Pasar Muamalah, Aktivis ProDem: yang Pakai Dolar Kenapa Gak Ditangkap?

Rabu, 3 Februari 2021 22:42

Aktivis ProDem Nicho Silalahi. (@nicho_silalahi/Instagram)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) Nicho Silalahi mengaku heran dengan langkah kepolisian menangkap pendiri Pasar Muamalah Depok Zaim Saidi.

Pasar Muamalah mencuri perhatian lantaran transaksi yang dilakukan menggunakan dinar dan dirham.

Nicho mempertanyakan masalah di balik penggunaan dinar dan dirham dalam transaksi selama tidak merugikan pelaku pasar.

“Selama alat tukar itu tidak merugikan bagi para pelaku pasar emank masalahnya apa sih ?,” ucapnya melalui akun Twitter @Nicho_Silalahi, Rabu (3/2).

Ia mengaku heran dengan keputusan kepolisian menangkap Zaim Saidi. Sebab menurutnya, transaksi valas yang menggunakan mata uang asing seperti dolar, euro, hingga poundsterling masih bisa berlaku dan tidak ada penangkapan.

“Terus jika ada menggunakan sistem barter juga apa urusannya dengan kalian ? Noh valas aja pakai dolar, uero, poundsterling dll kenapa ga ditutup dan ditangkap ? Bingung gue,” tandasnya.

Diketahui, Bareskrim Polri telah menangkap Zaim Saidi, pendiri pasar muamalah di Depok yang bertransaksi menggunakan dinar dan dirham. Polsi menangkapnya dengan status sebagai tersangka.

Kabag Penum Mabes Polri, Kombes Ahmad Ramadhan pada konferensi persnya, mengatakan, pasar tersebut telah eksis sejak tahun 2014 silam. Pasar ini hanya beroperasi satu kali dalam dua pekan.

Ahmad mengatakan, pasar ini sengaja didirikan untuk meniru jual beli di zaman nabi.

“Untuk komunitas masyarakat yang ingin berdagang dengan aturan mengikuti tradisi pasar di zaman Nabi,” ujar Ahmad, Rabu (3/2).

Pedagang di pasar tersebut sekitar 10 hingga 15 lapak. Di sana mereka melakukan transaksi dengan koin dinar dan dirham yang didapatkan dari PT Aneka Tambang (Antam).

“Dinar yang digunakan Pasar Muamalah adalah koin emas sebesar 4 1/4 gram, emas 22 karat. Sedangkan, dirham yang digunakan koin perak seberat 2,975 gram perak murni,” jelas Ahmad.

Dijelaskan bahwa nilai tukar satu dinar setara dengan Rp4 juta. Sementara satu dirham senilai Rp73.500.

ZS dipersangkakan dengan pasal 9 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana dan pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

“Dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp 200 Juta,” pungkas Ahmad. (dal/riz/fin)

Komentar