Kawasan Nondemokrasi

Rabu, 3 Februari 2021 09:13

Disway

Suu Kyi lantas kuliah di New Delhi, India. Lalu lanjut ke Inggris, ke Oxford University. Di usia 43 tahun Suu Kyi harus pulang ke Myanmar. Di saat yang sebenarnya kurang tepat –di tengah pemerintahan diktator militer. Tapi ibunyi sakit keras. Suu Kyi harus merawat sang ibu. Anaknyi yang masih 11 dan 14 tahun ditinggal di Inggris, bersama suaminyi Michael Aris, orang Inggris kelahiran Kuba.

Sebelum kawin, Suu Kyi kerja di PBB di New York. Tiap hari dia menulis surat ke pacarnya itu. Tahun 1972 mereka menikah dan langsung tinggal di Bhutan.

Ketika Suu Kyi untuk kali pertama pulang ke Myanmar itu, dia baru 15 tahun menikah. Suami dan dua anak ditinggal di Oxford. Ketika pun tahun 1999 sang suami meninggal, Suu Kyi masih dalam status tahanan.

Di Myanmar Suu Kyi berkembang jadi tokoh sentral perlawanan pada pemerintahan militer. Dia ditangkap. Dipenjara di rumahnyi. Sampai 21 tahun. Tapi dia tetap menjadi tokoh perlawanan –dari balik penjara.

Ketika Suu Kyi menerima hadiah Nobel perdamaian, anaknyi itu yang mewakili. Termasuk berpidato atas nama sang ibu.

Perjuangan Suu Kyi akhirnya berhasil. Dunia Barat mendukungnyi. Pemerintahan militer menjanjikan Pemilu pertama secara demokratis pada tahun 2015.

Sebelum Pemilu, militer sudah menyusun konstitusi: 25 persen kursi di parlemen wajib disediakan untuk ‘Fraksi ABRI’-nya tentara Myanmar. Tujuan idealismenya: untuk mencegah dilakukannya perubahan konstitusi.

Komentar


VIDEO TERKINI