WNA Kawini Warga Lokal dan ‘Kuasai’ Aset Wisata, Sosiolog: Sentimen Nasionalisme Menganggapnya Ancaman

Rabu, 3 Februari 2021 13:18

Pulau Lantigiang, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Fenomena jual-beli properti dari pasangan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) adalah hal lumrah dan biasa terjadi. Utamanya di daerah tujuan wisata dunia seperti Bali, Lombok dan Nusa Tenggara Timur.

Hal ini banyak terjadi di wilayah tersebut. Bukan menjadi persoalan karena transaksi jual belinya sesuai koridor hukum yang benar.

Namun, lain soal yang terjadi di Pulau Lantigiang, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan. Pulau yang masuk Kawasan Taman Nasional Takabonerate itu dijual oleh warga Desa Jinato, Kecamatan Taka Bonerate, Syamsul Alam kepada Asdianti sebesar Rp900 juta dan telah disetor panjar sebesar Rp10 juta sebagai tanda jadi.

Modusnya dengan mempersunting perempuan lokal untuk mengusai aset milik negara. Asdianti adalah warga Selayar yang berlatar belakang pengusaha. Sementara suaminya merupakan warga asing berkebangsaan Jerman.

Lantas mengapa transaksi penjualan Pulau Lantigiang di Selayar dipersoalkan?

Dr Sawedi Muhammad, Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menerangkan, pulau yang diperjual belikan masuk ke dalam kawasan utama Konservasi Kawasan Laut (KKL) Taka Bonerate yang merujuk pada UU No. 5/1990 Tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem.

Pengaturan kawasan KKL ini sangat ketat dimana transaksi jual beli pulau di dalam zona KKL adalah ilegal. Karena transaksinya ilegal dan tidak ditindak atau proses hukumnya lambat makanya jadi kontroversi dan disorot publik. Jika saja ditangani dengan cepat oleh pemda dan aparat setempat mungkin isunya tidak akan meluas.

Komentar