Jika Pilkada Digelar 2024, Ini Pengaruhnya ke Anies Baswedan dan Nurdin Abdullah

Kamis, 4 Februari 2021 16:23

Anies Baswedan dan Nurdin Abdullah

Lebih lanjut, Arif mengungkapkan, meskipun Nurdin Abdullah disamakan levelnya dengan Anis, pengaruhnya akan kurang signifikan dibanding Anies jika garisnya ditarik ke Pilpres.

Politik di DKI Jakarta kata Dekan Fisip Unibos itu sangat kompleks karena jadi pusat Indonesia. Sementara di Sulsel, Nurdin Abdullah bisa terhambat faktor geopolitik. Lain halnya jika NA maju sebagai cawapres.

“NA meskipun sama levelnya dengan Anis, tapi pengaruhnya kurang signifikan jika garisnya ditarik ke Pilpres,” tuturnya.

“Keputusan pilkada serentak 2024 masih jadi pembahasan di badan legislasi DPR, karena ada beberapa partai politik yang berkepentingan untuk pilkada serentak di tahun 2022 atau 2023, meskipun pemerintah menetapkan lain,” lanjutnya.

Khusus DKI Jakarta, jika Pilkada 2022 ditiadakan. Maka gubernur akan dijabat oleh pelaksana tugas dari salah satu pejabat eselon I Kemendagri sampai pelaksanaan Pilkada 2024.

Menurutnya, dalam konteks pilkada di Sulsel, tergantung regulasi yang mana yang akan berlaku. Jika keputusan pemerintah yang diikuti, maka di 2023 pemerintahan Nurdin Abdullah akan berhenti. Hingga tahun 2024, Sulsel akan dipimpin oleh Plt Gubernur.

“Tapi saya pikir tidak terlalu ada dampaknya juga ke pak NA, karena afiliasi politik beliau, relatif sama dengan pemerintah pusat saat ini. Relatif tidak ada dampaknya terhadap karir politik Nurdin. NA tetap bisa mencalonkan diri lagi di 2024, sebagai apapun. Mau maju lagi sebagai calon gubernur boleh, mau maju sebagai calon wapres misalnya juga bisa,” imbuhnya.

Komentar