Lantigiang; Mau Dibawa ke Mana?

Kamis, 4 Februari 2021 20:32

Pulau Lantigiang. (int)

Oleh: SuharlimPengurus DPD KNPI Kepulauan Selayar

Lantigiang; sebuah pulau yang tadinya mungkin tak pernah disebutkan namanya dalam tujuan wisata. Namun, sejak pemberitaannya viral, lokasi itu kini menjadi pulau yang menampung harapan banyak orang.

Pulau yang dikelilingi oleh hamparan pasir putih itu mendadak menjadi primadona. Berawal dari niat baik AS, sosok perempuan asal Selayar yang ingin menjadikan pulau tersebut sebagai kepentingan wisata.

Pulau yang sedekat bibir atas dan bawah dengan Tinabo ini, akhirnya hangat diperbincangkan dan menjadi catatan penting untuk dituju oleh wisatawan.

Lantigiang memang masuk dalam zona inti, kawasan Taman Nasional Taka Bonerate yang memiliki atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa.

Lantaran pulau tersebut semakin membuat orang penasaran maka sekejab informasi tentang Lantigiang berada dalam genggaman pengguna gadget.

Mungkin semuanya ramai-ramai membuka berita bahkan mencari tahu di google tentang Lantigiang sehingga kini membuatnya terpesona setelah melihat dengan mata terbuka akan potensi yang terkandung didalamnya.

Sungguh menakjubkan keindahan laut dan pantainya. Kapan bisa ke sana? Pertanyaan demikian yang selalu muncul dalam benak setiap orang ketika melihat keindahan pulau tersebut.

Dari sini saya berpikir kontradiktif bahwa terkadang memang kita harus berterima kasih pada orang lain yang berbeda pandangan dan kehendak karenanya mampu mengungkap sisi lain yang tidak mampu kita jangkau meskipun posisinya mungkin dianggap salah tempat.

Namun sekiranya belum terlambat, maka polemik Pulau Lantigiang sebenarnya hanya membutuhkan iktikad baik dari semua pihak untuk bisa duduk bersama sembari meneguk kopi susu sehangat beritanya saat ini.

Apalagi pembeli karena terdorong oleh kesadaran luhur guna memanfaatkan sebagian lahan dari pulau tersebut untuk kepentingan pengembangan sektor wisata.

Paling tidak, pihak yang punya kewenangan bisa memberi petunjuk jalan memudahkan dalam urusan berkaitan dengan itu karena tentunya akan berdampak ekonomis terhadap masyarakat dan Selayar pada umumnya.

Sisa kemudian dibuatkan catatan penting yang mempunyai dasar legitimate sesuai ketentuan, bahwa apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan demi menjaga keberlangsungan pariwisatanya.

Di satu sisi, serasa pengembangan sektor wisata di pulau umumnya di Selayar selama ini bisa dikatakan belum berjalan secara maksimal sehingga mengapa tidak jika diberi jalan bagi pihak swasta untuk mengelolanya dengan baik dan profesional sehingga dapat menarik wisatawan dari luar dan itu akan bernilai ekonomis.

Kalau kita coba bandingkan dengan daerah lain, harus diakui agar ada upaya untuk berpacu bahwa sesungguhnya kita masih jauh tertinggal. Dengan demikian, akan senantiasa ada inovasi dan transformatif ide untuk pengembangan sektor wiasata kedepannya.

Orang lazim mengilustrasikan bahwa objek wisata tanpa pengunjung itu ibarat lukisan. Kelihatannya indah tapi tidak bisa dinikmati dan dimanfaatkan kecuali hanya terbatas dalam ruang imajinasi. Mestinya itu diimplementasikan dalam bentuk yang nyata melalui keterlibatan pihak swasta.

Olehnya itu, saya optimis kalau keterlibatan pihak swasta diberi kemudahan untuk mengelola sektor pariwisata maka dengan cepat akan berkembang dan dipadati oleh pengunjung baik dari dalam negeri maupun dari luar.

Beberapa sumber juga membenarkan bahwa mustahil sektor pariwisata dapat berkembang dengan baik jika tidak melibatkan swasta baik lokal maupun dari luar negeri. Karena yang bersangkutan akan berupaya semaksimal mungkin untuk bisa mendatangkan wisatawan. Tentu akan rugi baginya jika tidak ada yang datang menikmatinya.

Mengapa harus swasta?

Pertama yang harus dipahami bahwa pemerintah bukan Profit Oriented sehingga dalam menggenjot sektor pariwisata serba diatur oleh kedinasan tetapi pihak swasta justru akan lebih berpikir profit sehingga atas konsep dasar itu bisa menjadi alasan untuk melibatkannya.

Kedua sektor pariwisata itu bukan menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti air yang pengelolaannya menjadi sebuah keniscayaan bagi PDAM. Artinya untuk mengembangkan sektor pariwista tidak boleh ada monopoli bahwa harus pemerintah melalui dinas kepariwisataan.

Ketiga dari sisi manajemen, pihak swasta akan lebih professional dalam sistem pengelolaan karena landasannya profit oriented tadi, dibandingkan pemerintah yang mungkin bekerja hanya untuk tidak ingin menggugurkan kewajiban.

Jadi menurut hemat saya yang bukan siapa-siapa dalam polemik Lantigiang, bahwa sangat sederhana jika sekiranya sedari awal semua pihak mau duduk bersama mencari jalan keluarnya dan tidak perlu proses ini sampai ke ranah hukum.

Terlebih pembeli terdorong karena niat baiknya untuk memanfaatkan pulau itu demi kepentingan pengembangan wisata.

Bukankah Selayar khususnya kepulauan selama ini yang digenjot adalah sektor wisatanya? Lalu buat apa potensi itu ada jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Padahal apa yang tidak bisa jika didukung dengan kewenangan dan selama tidak melanggar serta merugikan banyak orang, tentu bisa memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Selanjutnya akan dibawa ke mana pulau Lantigiang??

Niat semua pihak mungkin baik, tidak terkecuali pembeli (AS) sehingga mestinya dari awal butuh diberi ruang dan difasilitasi seperti apa dan bagaimana agar tidak menimbulkan kekeliruan dan dampak yang saling merugikan antara dengan yang lain.

Meskipun demikian, peristiwa ini telah memberi pelajaran dengan membuka mata banyak orang akan potensi pariwisata Selayar khususnya di Kepulauan yang butuh kolaborasi baik pemerintah daerah gubernur dan pemerintah pusat dalam hal ini menteri patiwisata dan ekonomi kreatif.

Lantigiang hanyalah satu contoh di antara pulau yang lain dengan potonsi wisata yang luar biasa untuk bisa dikembangkan. Yang menjadi pertanyaan, apakah kedepan hanya kembali dibiarkan begitu saja, dan menjadi terapung di tempatnya atau justru dari peristiwa ini memantik harapan untuk dibagaimanakan.

Tentunya besar harapan kita bahwa jika AS tidak mampu menularkan niatnya, ada AS dalam jelmaan lain yang bisa mengaktualisasikannya untuk membangun pariwisata Selayar termasuk di pulau Lantigiang, sehingga memberi dampak positif untuk peningkatan ekonomi masyarakat dan daerah.

Komentar


VIDEO TERKINI