Potret Bone Malam Hari, Mengadu Nasib di Titik Nol Kota

Jumat, 5 Februari 2021 19:45

“Deto nasiaga usaro. Assaleng engka mua pangelli pissing,” ujar Hanna, penjual kacang rebus di Titik Nol Kota Bone

AGUNG PRAMONOJl MH Thamrin, Bone

Lapangan Merdeka selalu ramai saat sore hari. Digunakan untuk jogging ataupun zumba. Lebih indah lagi saat malam hari. Gemerlap lampu. Apalagi saat air mancurnya jalan. Banyak dijadikan sebagai spot berswafoto.

Jika berkunjung ke Lapangan Merdeka cobalah menyeberang. Di depan pos lantas, atau dekat dari kantor pos di Jl MH Thamrin, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang. Ada semangat yang menggebu-gebu akan dilihat secara langsung.

Di trotoar ada sebuah tenda-tenda kecil. Seorang wanita tua duduk bersila. Namanya Hanna. Ada pelita di depannya. Di sampingnya ada tukang becak, yang tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri, Cottang.

Sejak pukul 19.00 Wita kacang rebusnya belum laku sedikit pun. Ibu dua anak itu tak pernah bosan menunggu pembeli. Hanya duduk saja di bawah tenda. Meski hujan. 

Pukul 22.57 Wita dia mulai berdiri. Mengambil satu per satu barangnya. Bergegas pulang. Saat itu pula ada mobil Avanza hitam yang singgah membeli.

“Berapa ini bu?” Tanya pemilik avabza hitam itu. “Rp5.000 nak satu bungkus,” timpal Hanna. “Bungkus dua bu. Ambilmi lebihnya,” lanjut lelaki itu. Wajah ibu itu pun begitu semringah.

Komentar