Potret Bone Malam Hari, Mengadu Nasib di Titik Nol Kota

Jumat, 5 Februari 2021 19:45
Belum ada gambar

Hanna tak mengetahui persis kapan mulai berjualan kacang rebus. Namun, seingatnya dia yang pertama menjual di jalan MH Thamrin.

“Mettana mabbalu’ku (lamama berjualan). Iyya na kesi degaga sikolaku (Sayami tidak ada sekolahku). Dewissengi aga nak umuruku (Tidak saya tau juga berapa umurku),” akunya kepada FAJAR Kamis (4/2/2021) malam.

Ibu dua anak itu setiap malamnya berkelahi dengan waktu. Demi satu impian. Melihat cucu-cucunya sekolah. Sebab, suaminya yang berprofesi sebagai tukang becak sudah tak digeluti lagi. Belakangan ini hanya terbaring sakit saja di rumahnya di Jl Anoa, Bukaka.

Pukul 17.00 atau pukul 18.00 Wita jadwalnya keluar. Kadang sampai pukul 23.00 Wita. Kadang juga sampai pukul 00.00 Wita. “Engkamoa pangelli ta’cedde-cedde (adaji pembeli sedikit-sedikit). Yatommi ro na wanre kesi saroku (ituji untungnya kupake makan). Assaleng no muki mabbalu engkamatuh diruntu, namuni pangelli pissing (asalkan turun jaki menjual adaji itu didapat, biar pembeli vetsin),” akunya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 Wita. Dia bergegas berdiri. Tubuhnya sudah membungkuk. Perlahan jalan ke becak adiknya. Bermaksud membangunkannya. Sang adik yang sudah berumur itu juga terbangun. Mengangkut satu per satu dagangan kakaknya.

“Saya kadang menunggu di sini. Kadang juga mengantarnya saja baru pulang. Nanti ketika mau pulang baru saya jemput,” aku Cottang.

Bagikan berita ini:
3
1
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar