Potret Bone Malam Hari, Mengadu Nasib di Titik Nol Kota

Jumat, 5 Februari 2021 19:45
Potret Bone Malam Hari, Mengadu Nasib di Titik Nol Kota

Pukul 22.57 Wita dia mulai berdiri. Mengambil satu per satu barangnya. Bergegas pulang. Saat itu pula ada mobil Avanza hitam yang singgah membeli.

“Berapa ini bu?” Tanya pemilik avabza hitam itu. “Rp5.000 nak satu bungkus,” timpal Hanna. “Bungkus dua bu. Ambilmi lebihnya,” lanjut lelaki itu. Wajah ibu itu pun begitu semringah.

Hanna tak mengetahui persis kapan mulai berjualan kacang rebus. Namun, seingatnya dia yang pertama menjual di jalan MH Thamrin.

“Mettana mabbalu’ku (lamama berjualan). Iyya na kesi degaga sikolaku (Sayami tidak ada sekolahku). Dewissengi aga nak umuruku (Tidak saya tau juga berapa umurku),” akunya kepada FAJAR Kamis (4/2/2021) malam.

Ibu dua anak itu setiap malamnya berkelahi dengan waktu. Demi satu impian. Melihat cucu-cucunya sekolah. Sebab, suaminya yang berprofesi sebagai tukang becak sudah tak digeluti lagi. Belakangan ini hanya terbaring sakit saja di rumahnya di Jl Anoa, Bukaka.

Pukul 17.00 atau pukul 18.00 Wita jadwalnya keluar. Kadang sampai pukul 23.00 Wita. Kadang juga sampai pukul 00.00 Wita. “Engkamoa pangelli ta’cedde-cedde (adaji pembeli sedikit-sedikit). Yatommi ro na wanre kesi saroku (ituji untungnya kupake makan). Assaleng no muki mabbalu engkamatuh diruntu, namuni pangelli pissing (asalkan turun jaki menjual adaji itu didapat, biar pembeli vetsin),” akunya.

Bagikan berita ini:
8
5
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar