IMSA-TMU Adakan Kajian Vaksin dalam Perspektif Islam

Sabtu, 6 Februari 2021 15:42

Oleh: Dito Anurogo

Taipei (5 Februari 2021) – “Di dunia Islam, imunisasi telah dimulai sejak zaman kekaisaran Ottoman. Sekitar tahun 1700an, kematian akibat smallpox mencapai angka tiga ribu per sejuta penduduk atau sekitar tiga per seribu penduduk. Di zaman kerajaan Utsmaniyah, masih di tahun 1700an, suatu teknik inokulasi smallpox yang disebut variolation dikenal luas, hingga ke wilayah India dan China,” demikian papar Bayu Satria Wiratama di hadapan sekitar lima puluh orang dalam Kajian Rutin IMSA-TMU bertema “Vaksin dalam Perspektif Islam” pada hari Jumat, 5 Februari 2021.

Kandidat doktor di Graduate Institute of Injury Prevention and Control, Taipei Medical University, Taiwan ini juga menjelaskan singkat perspektif imunomolekuler vaksin. “Di era modern, vaksinasi telah diproses dengan teknologi canggih yang berbasis imunologi dan biologi molekuler. Umumnya melibatkan berbagai komponen, meliputi antigen, adjuvant, preservatives, stabilizers, surfactants, residuals, dan diluent.”

Vaksin ini menimbulkan problematika baru, terutama bagi masyarakat Islam. Salah satunya aspek kehalalan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga independen yang berhak menetapkan status kehalalan vaksin. Komponen stabilizers inilah yang umumnya mengandung porcine gelatine.

Mayoritas ulama berdasarkan kaidah fiqh telah bersepakat bahwa bila tidak ada vaksin lain yang tersedia dan penyakitnya memiliki efek serius bagi kesehatan, maka vaksin yang tersedia dapat dipertimbangkan.

Komentar