Kajian Vaksin dalam Perspektif Islam

Sabtu, 6 Februari 2021 17:24

Suasana jalannya diskusi. (IST)

FAJAR.CO.ID — “Di dunia Islam, imunisasi telah dimulai sejak zaman kekaisaran Ottoman. Sekitar tahun 1700-an, kematian akibat smallpox mencapai angka tiga ribu per sejuta penduduk atau sekitar tiga per seribu penduduk. Di zaman kerajaan Utsmaniyah, masih di tahun 1700-an, suatu teknik inokulasi smallpox yang disebut variolation dikenal luas, hingga ke wilayah India dan China,” demikian papar Bayu Satria Wiratama di hadapan sekitar lima puluh orang dalam Kajian Rutin IMSA-TMU bertema “Vaksin dalam Perspektif Islam” pada hari Jumat, 5 Februari 2021.

Kandidat doktor di Graduate Institute of Injury Prevention and Control, Taipei Medical University, Taiwan ini juga menjelaskan singkat perspektif imunomolekuler vaksin. “Di era modern, vaksinasi telah diproses dengan teknologi canggih yang berbasis imunologi dan biologi molekuler. Umumnya melibatkan berbagai komponen, meliputi antigen, adjuvant, preservatives, stabilizers, surfactants, residuals, dan diluent.”

Vaksin ini menimbulkan problematika baru, terutama bagi masyarakat Islam. Salah satunya aspek kehalalan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga independen yang berhak menetapkan status kehalalan vaksin. Komponen stabilizers inilah yang umumnya mengandung porcine gelatine.

Mayoritas ulama berdasarkan kaidah fiqh telah bersepakat bahwa bila tidak ada vaksin lain yang tersedia dan penyakitnya memiliki efek serius bagi kesehatan, maka vaksin yang tersedia dapat dipertimbangkan.

Adapun proses pembuatan vaksin memiliki tiga pendekatan. Pertama, menggunakan virus atau bakteri secara keseluruhan. Kedua, menggunakan bagian atau komponen dari virus atau bakteri yang memicu sistem imun. Ketiga, hanya menggunakan material genetika. Pendekatan keseluruhan mikroorganisme juga dapat digunakan, sehingga menghasilkan produk berupa: vaksin inaktivasi, vaksin live-attenuated, dan vaksin vektor virus.

Komentar