Menyoal Pemilu Serentak, DPR: 2019 Ada Ratusan Nyawa Jadi Korban

Sabtu, 6 Februari 2021 18:27

ILUSTRASI. (int)

FAJAR.CO.ID — Di tengah sorotan pembahasan revisi Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu), kesiapan penyelenggara dan pengawas Pemilu menjadi perhatian dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Anggota Komisi IX DPR RI, Ashabul Kahfi, mengatakan pelaksanaan Pemilu serentak mendatang harus berkaca pada pengalaman Pemilu Serentak 2019 yang lalu. Saat itu, data KPU dan Bawaslu mencatat ada lebih dari 400 penyelenggara dan pengawas yang meninggal dunia dan lebih dari 3.000 orang jatuh sakit.

Selain itu, terdata sekiranya ada 22 anggota kepolisian yang meninggal dunia akibat bertugas. Penyebab kematian para korban mayoritas akibat serangan jantung. Rentetan panjang proses pemilu menjadi pemicunya.

“Pengalaman pemilu raya 2019, menggabungkan pileg dan pilpres dalam satu satuan waktu itu sudah memakan korban ratusan jiwa. Kesiapan penyelenggara dan pengawas harus lebih diperhatikan,” ujar Ketua DPW PAN Sulsel itu dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, (6/2/2021).

Kendati dilaksanakan terpisah dan pada tahun yang sama, Ashabul menilai akan ada banyak kerumitan teknis pada pelaksanaan pemilu.

“Penyelenggara pasti akan mendapatkan banyak kendala, misalnya soal bimtek dan logistik. Itu akibat kompleksitas pemilihan yang dilaksanakan,” tuturnya.

“Misal hari pelaksanaan Pilkada dan Pilpres/pileg dilaksanakan berbeda, tapi tahapan-tahapannya tetap akan beririsan,” sambungnya.

Menurutnya, beban terbesar pemilu justru berada di tingkat pelaksana paling bawah. Perhitungan suara di TPS yang umum dituntaskan semalam, nyatanya dilaksanakan hingga dini hari. Itu sebabnya, penyelenggara dan pengawas harus lebih mempersiapkan diri agar tak ada lagi korban nyawa pada pemilu selanjutnya. (MG9)

Komentar