Penantian D-dimer

Senin, 8 Februari 2021 10:57

Disway

Oleh: Dahlan Iskan

KALAU saja tidak terkena Covid-19 mungkin saya tidak kenal istilah ini: D-dimer.

Tentu saya sudah ratusan kali memeriksakan darah. Tapi baru di saat terkena Covid Januari lalu itu unsur D-dimer darah saya diperiksa: 2.600.

Saya bersyukur tim dokter  memasukkan D-dimer ke dalam daftar yang harus dicek. Lalu ketahuanlah angka 2.600 tersebut. Kelewat tinggi. Normalnya, maksimum 500.

Pembicaraan soal D-dimer ini ramai minggu lalu. Yakni ketika seorang pasien Covid-19 di Semarang meninggal dunia. Justru setelah 10 hari dinyatakan Covid-nya negatif. Sudah double pemeriksaan –negatif terus.

Ternyata saya kenal almarhum: Santoso Widjaya. Umur 63 tahun. Kontraktor listrik. Rekanan PLN sejak zaman dulu.

Tanggal 9 Desember 2020, Santoso terkena Covid. Ia dimasukkan RS besar di Semarang. Tanggal 21 Desember dinyatakan sembuh. Hasil test swab-nya negatif. Lalu diswab lagi: tetap negatif.

“Suami saya itu tidak pernah sakit. Tidak pernah masuk rumah sakit,” ujar Swanniwati, istrinya. “Ya baru sekarang ini berurusan dengan rumah sakit. Meninggal,” kata Swanniwati.

Saya menelepon Swanniwati kemarin. Sehari setelah dia tampil di CNN Indonesia. Swanniwati menceritakan semua yang dialami suami. Kini Swanniwati memang ingin agar jangan ada orang lain senasib dengan suaminyi. Yakni meninggal justru setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Komentar