Obat Asma Mampu Kurangi Kebutuhan Rawat Inap Covid-19, Ini Penelitiannya

Rabu, 10 Februari 2021 09:42

Ilustrasi ruang isolasi di sebuah rumah sakit untuk pasien Covid-19. Pertambahan kasus Covid-19 per hari masih tinggi dan pada Kamis (3/12) terjadi rekor tertinggi (Moch Asim/Antara)

FAJAR.CO.ID, OXFORD – Hasil riset Universitas Oxford menyatakan bahwa obat asma biasa mampu mengurangi kebutuhan rawat inap serta waktu pemulihan pasien COVID-19, jika diberikan dalam waktu tujuh hari gejala muncul.

Temuan itu didapat menyusul riset tahap kedua steroid budesonide, yang dijual dengan nama Pumicort oleh AstraZeneca dan juga digunakan untuk mengobati paru-paru perokok.

Riset 28 hari terhadap 146 partisipan menunjukkan bahwa inhaler budesonide mengurangi risiko perawatan darurat atau rawat inap hingga 90 persen jika dibanding dengan perawatan biasa, menurut Universitas Oxford, Selasa (9/2).

Para peneliti mengaku uji coba tersebut terinsprasi oleh fakta bahwa pasien dengan penyakit pernapasan kronis, yang sering diresepkan steroid hirup, secara signifikan kurang terwakili di antara pasien COVID-19 rawat inap selama hari-hari awal pandemi.Data awal dari riset tersebut juga mendapati bahwa partisipan yang diobati dengan budesonide memiliki resolusi demam yang lebih cepat dan gejala persisten yang lebih sedikit.

“Saya berbesar hati bahwa obat yang relatif aman, sangat terjangkau dan diteliti dengan baik, dapat memiliki dampak pada tekanan yang kita alami selama pandemi,” kata kepala riset Mona Bafadhel.

Pulmicort pernah menjadi obat sangat laris untuk produsen vaksin COVID-19 AstraZeneca, yang kini menawarkan obat yang lebih baru, Symbicort, sebagai obat alternatif untuk asma.

Komentar