Tanpa Angpao

Kamis, 11 Februari 2021 08:54

Disway

Oleh: Dahlan Iskan

NANTI malam anak-cucu keluarga Tionghoa wajib berkumpul di rumah orang tua masing-masing.

Itulah inti Tahun Baru Imlek. Untuk menunjukkan bakti pada papa-mama mereka. Diiringi doa keselamatan dan kemakmuran. Lalu makan-makan. Terutama harus ada menu mi di dalamnya.

Tidak boleh ada perayaan. Tidak boleh pergi ke mana-mana –apalagi dengan alasan yang dicari-cari. Semua harus berkumpul di rumah orang tua. Perayaannya kelak, 15 hari lagi: di hari Cap Gomeh. Pergi-perginya ditunda dulu, setelah itu.

Sentral acara nanti malam hanya orang tua dan doa untuk kemakmuran. Sungkem kepada orang tua itu dimulai oleh anak tertua. Lalu adik-adik. Menantu-menantu. Lalu giliran cucu-cicit.

Itulah inti hari raya Tahun Baru Imlek. Sebelum ada pandemi. Makan malamnya pun yang paling istimewa.

Di Singapura malam Tahun Baru kali ini sangat berbeda. Gara-gara pandemi. Ada yang tetap kumpul keluarga tapi lebih terbatas.

Robert Lai, saudara saya itu, akan makan malam bersama secara virtual. Pakai Zoom. Robert punya tiga anak, wanita semua. Yang sulung tinggal di Kuala Lumpur. Bersama suami dan anak. Pandemi di Malaysia juga lagi parah.

Yang bungsu sudah setahun ini kembali ke Singapura. Dari sekolah di University of Pennsylvania. Juga dari bekerja di beberapa negara belahan lain dunia. Tapi dia tinggal terpisah. Di rumah sendiri di Singapura. Hanya yang bungsu yang bersama Robert dan istri.

Komentar