Anyorong Lopi, Tradisi Unik dari Tanah Beru ‘Mengantar’ Pinisi Menyentuh Laut

Jumat, 12 Februari 2021 10:41

Annyorong Lopi merupakan ritual peluncuran perahu pinisi dari panntai Bonto Bahari yang ditarik menuju perairan. Foto: Pribadi

FAJAR.CO.ID, BULUKUMBA — Kapal Pinisi, karya monumental suku Bugis Makassar yang mempertahankan tradisi nenek moyang itu telah siap melaut setelah hampir dua tahun proses pembuatannya. Gagah, kokoh mungkin demikian kesan ketika melihat perahu kayu tanpa paku tersebut.

Eits, nanti dulu. Kapal legendaris itu tidak begitu saja bisa melaut. Masyarakat Bulukumba, tepatnya di Desa Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Sulawesi Selatan punya ritual khusus sebelum pinisi menyentuh laut.

Namanya ritual Annyorong Lopi, atau peluncuran perahu pinisi. Annyorong Lopi merupakan tradisi masyarakat Tanah Beru yang kerap dilakukan sebelum perahu pinisi mengarungi lautan.

Istilah Annyorong Lopi berasal dari Bahasa Konjo, yang berarti mendorong (annyorong) perahu atau kapal (lopi). Sehari sebelum ritual ini dilakukan, warga terlebih dahulu menggelar upacara sangka bala ammossi’ dan apassili guna menaikkan doa agar diberikan keselamatan saat ritual Annyorong Lopi digelar.

Warga Tanah Beru ikut serta dalam ritual ini. Entah pria maupun wanita. Bahkan ritual ini menjadi magnet bagi wisatawan untuk ikut serta bergabung.

Dua utas tali tambang yang terikat di bagian belakang pinisi membentang dari bagian belakang kapal menuju ke arah pantai. Pada masing-masing tambang, sebanyak 20-30 orang menggenggam tali sambil menguatkan kuda-kuda, serentak menarik kapal.

Di kedua sisi lambung kapal, belasan orang berusaha menyandarkan telapak tangannya dan mendorong lambung kapal agar tak oleng ke kiri atau ke kanan. Dari belakang, belasan warga turut mendorong pinisi agar bisa bergerak ke perairan.

Komentar