Novel Dipolisikan Setelah Presiden Minta Dikritik, Rocky Gerung: Ucapan Jokowi Hanya Pemetaan Politik

Jumat, 12 Februari 2021 18:14

Rocky Gerung

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa hari lalu menyampaikan bahwa ia ingin pemerintahanya dikritik, agar bisa memberikan perbaikan.

Akan tetapi, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dilaporkan ke Bareskrim Polri lantaran mengomentari meninggalnya Ustazd Maaher At Thuwailibi di Rutan Bareskrim.

Novel dilaporkan oleh Ormas Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Mitra Kamtibmas (PPMK), Kamis kemarin. Hal itu membuat banyak nitizen geram terkait itu.

Menurut Rocky Gerung, apa yang telah diucapkan novel itu, bukan suatu kritik atau penghinaan dan suatu keributan melainkan suara hati.

“Apa yang diucapkan, Novel bukan keributan belaka, tetapi suara hati. Jadi bagaimana mungkin setiap kali orang mengucapkan kejujuran dari suara hatinya. Itu langsung dinyatakan sebagai orang yang akan diproses atau malah mau di tahan,” tutur Rocky di akun Youtube Rocky Gerung Official. Jumat, (12/2/2021).

Politikus dan filsuf itu menyebut, kalau seperti ini prinsip keadilan, proses saja semua orang yang berkomentar tentang kasus kematian Ustadz Maher ini.

“Inikan berita nasional, kalau begitu, buat aja semacam prinsip keadilan. Proses aja semua orang yang ngomong tentang kasus Ustazd Maher ini,” jelas Rocky.

Lebih lanjut, politikus kelahiran Manado itu melihat ada sponsor dibelakang ucapan presiden.

“Jadi ini sebenarnya pemetaan politik. Saya selalu mencurigai bahwa ucapan presiden Jokowi adalah umpan untuk memetakan sisa-sisa oposisi itu, nah itu yang akan dipangkas. Inilah yang dimaksud pemetaan politik,” pungkasnya. (mg1/fajar)

Komentar


VIDEO TERKINI