Bawaslu Ingatkan Bahaya Politik Identitas, Demokrat Ungkit Penyelenggara Pemilu yang Meninggal Dunia

Sabtu, 13 Februari 2021 11:53

ILUSTRASI. (int)

Terpisah, pelaksanaan Pemilu dan Pilkada Serentak pada 2024 mendatang menjadi kekhawatiran sejumlah pihak. Pengalaman Pemilu lima kotak 2019 lalu, harusnya dijadikan pelajaran. Beratnya beban penyelenggara Pemilu hingga jatuhnya korban.

Kompleksitas tahapan juga perlu dipertimbangkan. Eks Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi Titi Anggraini mengingatkan, ada sejumlah implikasi yang akan dihadapi.

“Kompleksitas Pemilu 2019 yang pernah dihadapi berpotensi berulang di 2024,” kata Titi. Alasannya, regulasi pada undang-undang tidak mengalami perubahan, baik UU Pemilu maupun UU Pilkada.

Kemudian, penyelenggaraan serentak juga dikhawatirkan akan memperlemah tingkat identifikasi partai politik dengan warga. Karena, biasanya korelasi antara pemilih dengan partai politik itu intensitas-nya meningkat pada saat ada agenda elektoral.

Lemahnya keterlibatan partisipatoris masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kemungkinan juga bisa terjadi. Pemerintah akan berusaha maksimal agar prosedural pemilu dan pilkada bisa berjalan baik. Namun kompleksitas pemilu bukan prosedural, namun juga substantif.

“Tetapi kalau kita lihat dari variabel indeks demokrasi penyelenggaraan pemilu itu menyumbang kontribusi skor yang tinggi yaitu 7,92. Jadi bisa dikatakan kalau kita bicara pergaulan internasional pemilu itu menjadi salah satu instrumen diplomasi demokrasi kita,” ujarnya. (khf/fin)

Bagikan berita ini:
2
9
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar