Jebakan Mao Zedong: Ngaku Ingin Dikritik, Lalu Tangkap dan Siksa Para Pengkritik

Sabtu, 13 Februari 2021 14:16

ILUSTRASI.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin mendapatkan saran dan kritikan dari masyarakat terhadap pelayanan publik dan kinerja pemerintah, dianggap sebagai jebakan selama masih ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan sejumlah pasal karetnya.

Pernyataan Presiden itu mengingatkan publik terhadap Ketua Partai Komunis China, Mao Zedong yang berkuasa pada tahun 1956.

Ekonom senior, Rizal Ramli menyebutkan, salah satu jebakan Mao Zedong dinamakan ‘Gerakan Seratus Bunga’. Rezim Mao mendorong masyarakat untuk memberikan kritikan keras terhadap kerja-kerja pemerintah. Namun itu hanya siasat Mao Zedong.

“Gerakan Seratus Bunga, 1956-57, Tiongkok mendorong warganya untuk mengungkapkan pendapatnya secara terbuka. Mao: “Kebijakan membiarkan seratus bunga mekar”.

Setelah kampanye, Mao menindak mereka yang mengkritik rezim. Itu adalah upaya untuk mengidentifikasi, lalu menganiaya,” tulis Rizal Ramli dikutip twitternya, Sabtu (13/2).

Hal yang sama dikatakan mantan Juri Bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie M Massardi. Dia mengatakan, jebakan Mao itu, menyebabkan banyak kaum intelektual ditangkap dan disiksa.

“Mao rindu kritik. Ketika Ketua Mao nafsu lawan-lawan politiknya, dia kampanye sok baik: Biarkan 100 Bunga Berkembang. Setelah itu dia bilang: Wo sudah siap keluar. lalu Polisi Merah bergerak. Lebih 1/2 juta kaum populer disiksa dalam bui. Ribuan lainnya lenyap,” tulis Adhie M Massardi di twitternya.

Komentar