Jebakan Mao Zedong: Ngaku Ingin Dikritik, Lalu Tangkap dan Siksa Para Pengkritik

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin mendapatkan saran dan kritikan dari masyarakat terhadap pelayanan publik dan kinerja pemerintah, dianggap sebagai jebakan selama masih ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan sejumlah pasal karetnya.

Pernyataan Presiden itu mengingatkan publik terhadap Ketua Partai Komunis China, Mao Zedong yang berkuasa pada tahun 1956.

Ekonom senior, Rizal Ramli menyebutkan, salah satu jebakan Mao Zedong dinamakan ‘Gerakan Seratus Bunga’. Rezim Mao mendorong masyarakat untuk memberikan kritikan keras terhadap kerja-kerja pemerintah. Namun itu hanya siasat Mao Zedong.

“Gerakan Seratus Bunga, 1956-57, Tiongkok mendorong warganya untuk mengungkapkan pendapatnya secara terbuka. Mao: “Kebijakan membiarkan seratus bunga mekar”.

Setelah kampanye, Mao menindak mereka yang mengkritik rezim. Itu adalah upaya untuk mengidentifikasi, lalu menganiaya,” tulis Rizal Ramli dikutip twitternya, Sabtu (13/2).

Hal yang sama dikatakan mantan Juri Bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie M Massardi. Dia mengatakan, jebakan Mao itu, menyebabkan banyak kaum intelektual ditangkap dan disiksa.

“Mao rindu kritik. Ketika Ketua Mao nafsu lawan-lawan politiknya, dia kampanye sok baik: Biarkan 100 Bunga Berkembang. Setelah itu dia bilang: Wo sudah siap keluar. lalu Polisi Merah bergerak. Lebih 1/2 juta kaum populer disiksa dalam bui. Ribuan lainnya lenyap,” tulis Adhie M Massardi di twitternya.

Dikutip Greelane, Mao Zedong mendorong publik untuk berikan kritik, usai Tentara Merah menang dalam Perang Saudara di China. Dia mengatakan dalam pidatonya bahwa “Kritik terhadap birokrasi mendorong pemerintah ke arah yang lebih baik.”

Pernyataan ini mengejutkan orang-orang China karena Partai Komunis sebelumnya selalu menindak setiap warga negara yang cukup berani untuk mengkritik partai atau pejabatnya.

Gerakan Liberalisasi


Mao menamakan gerakan liberalisasi ini Kampanye Seratus Bunga, sesuai dengan puisi tradisional: “Biarlah seratus bunga mekar / Biarlah seratus aliran pemikiran bersaing.”

Meski demikian, publik China kala itu tidak benar-benar percaya bahwa mereka dapat mengkritik pemerintah tanpa menimbulkan akibat. Perdana Menteri Zhou Enlai hanya menerima sedikit surat dari para intelektual terkemuka, berisi kritik yang sangat kecil dan hati-hati terhadap pemerintah.

Pada musim semi 1957, pejabat komunis mengubah nada bicara mereka. Mao mengumumkan bahwa kritik terhadap pemerintah tidak hanya diperbolehkan tetapi disukai, dan mulai menekan langsung beberapa intelektual terkemuka untuk mengirimkan kritik membangun mereka.

Tak la kemudian, Pemerintahan mendapat banyak kritikan. Para aktivis dan kaum intelektual ramai-ramai mengirimkan surat ke Istana berupa kritikan dan saran. Mahasiswa dan warga lainnya juga mengadakan pertemuan kritik dan aksi unjuk rasa, memasang poster, dan menerbitkan artikel di majalah yang menyerukan reformasi.

Hingga pada 8 Juni 1957, Mao meminta penghentian Kampanye Seratus Bunga. Dia mengumumkan bahwa sudah waktunya untuk memetik “gulma beracun” dari hamparan bunga.

Ratusan intelektual dan mahasiswa ditangkap, termasuk aktivis pro-demokrasi Luo Longqi dan Zhang Bojun, dan dipaksa untuk mengakui secara terbuka bahwa mereka telah mengorganisir sebuah konspirasi rahasia melawan sosialisme. Tindakan keras itu mengirim ratusan pemikir China terkemuka ke kamp kerja paksa untuk “pendidikan ulang” atau ke penjara. Eksperimen singkat dengan kebebasan berbicara akhirnya berakhir. (dal/fin).

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan