Angkat Bicara soal Buzzer, KH Muhammad Cholil Nafis Sebut Kata Gibah dan Adu Domba

Minggu, 14 Februari 2021 19:31

Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Cholil Nafis. Foto tangkapan layar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis angkat bicara soal buzzer atau pendengung bayaran di media sosial.

Belakangan ini banyak tokoh masyarakat yang mengeluhkan keberadaan buzzer yang dianggap makin meresahkan dan memecah belah anak bangsa.

Ada yang beranggapan bahwa buzzer digunakan untuk menyerang dan membunuh karakter mereka yang kritis kepada pemerintah.

Suara kritis masyarakat bukan diimbangi dengan narasi yang cerdas dan mencerahkan, tetapi justru dihadapkan dengan buzzer yang menyerang pribadi, menebar fitnah dan mengadu domba.

Hal itulah yang dinilai membahayakan demokrasi dan kehidupan bermasyarakat di tanah air.

“Tetapi yang disampaikan (buzzer) itu fitnah, namimah (adu domba), gibah apalagi untuk membunuh karakter orang. Itu membuat ketakutan,” kata Cholil Nafis, pada kanal YouTube Hersubeno Arief Point.

Dia menyebutkan, jika diskusi dilakukan apple to apple maka membuat suasana menjadi hidup dan nyambung.

Namun, kalau kemudian dihadapkan dengan akun anonim kemudian menebar sarkasme, atau tulisannya menebar kebencian, akan membuat tidak nyaman.

Mungkin bagi tokoh tertentu dinilai tidak levelnya akan didiamkan, tetapi bagi yang lain hal ini dinilai sangat mengganggu. “Orang ketika mengkritik bukan substansi kritiknya yang dikejar tetapi orangnya yang dibunuh karakternya,” tegasnya.

Dia menambahkan, yang menjadi masalah lagi buzzer itu berkelompok dan mereka menyebarkan kebencian, gibah dan fitnah secara luas. Kesalahan seseorang dicari-cari, video dipotong-potong hanya untuk mendiskreditkan seseorang.

Komentar