Mengelola Depresi, Ini Cara Bijak Ciptakan Bahagia

Selasa, 16 Februari 2021 18:31

Flavia Norpina Sungkit

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Setiap orang memiliki pencetus stres berat yang berbeda-beda. Bisa karena kehilangan pekerjaan, belum punya anak, kerjaan menumpuk, dan lainnya.

Stres tinggi bisa berangkaian dengan kelelahan emosional dan merasa tidak bahagia. Dampaknya bisa berupa pola hidup tak sehat, makan penuh emosi (emotional eating), hingga perilaku tidak produktif bahkan destruktif.

“Kita perlu tahu, stressor itu pemicu atau trigger-nya apa? Ini penting kita tahu sumbernya dari mana? Root cause-nya dari mana?” urai Flavia Norpina Sungkit, psikolog dari IKIGAI Consulting, dalam seminar kesehatan NutriClass kerja sama Nutrifood Indonesia dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Senin (15/2/2021).

Secara umum, pencetus stres bisa berasal dari dua hal: internal dan eksternal. Secara internal, bisa saja memang berasal dari dalam diri sendiri. Bisa juga karena faktor lingkungan, yakni kondisi di luar diri yang mengakibatkan tekanan mental.

Ketidakmampuan mengelola stres ini bisa membawa implikasi serius. Bahkan, cenderung negatif dan merusak. “Destruktif (merusak) itu, contohnya, karena stres tinggi, kita jadi mudah menyalahkan orang lain,” imbuh Fla, sapaan akrab Flavia.

Efek lainnya, seseorang dengan stress tinggi, akan menjadi kurang bahkan kehilangan kepercayaan diri. Akibatnya, pekerjaan yang selama ini enteng dikerjakan karena sudah menjadi kegiatan harian, pun akan berat diselesaikan lantaran ketidakmampuan menangani stres tersebut.

Komentar