Pernikahan Dini Meningkat saat Pandemi, Pengamat: Buruk untuk Psikologi Anak

Sabtu, 20 Februari 2021 21:06

ILUSTRASI. (int)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Perkawinan anak usia dini sangat berdampak negatif bagi anak, terutama bagi pendidikan, kesehatan, ekonomi yang dapat menyebabkan munculnya kemiskinan baru. Belum lagi dampak lainnya seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Hasil pengawasan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada 17 Februari 2021. Mencatat 119 peserta didik, usia 15 tahun hingga 18 tahun, putus sekolah dan melakukan pernikahan. Dikarenakan ekonomi keluarga siswa yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Menurut pengamat Psikologis, Dr. Ichlas Nanang Afandi, menyebut bahwasanya anak yang menikah pada usia dini, secara psikologis maupun medis, bagaimanapun belum siap menghadapi situasi itu.

Dr. Ichlas mengatakan, salah satu alasan memicu pernikahan anak usia dini, bisa disebabkan oleh diri sendiri atau kemungkinan besar dari orang tua anak tersebut. Berharap dengan menikahkan anaknya, ada kehidupan yang lebih baik terutama dari segi ekonomi.

“Menikah muda akan berdampak buruk bagi anak. Ditambah lagi jika anak tersebut, menikah dengan yang boleh dikatakan ekonominya sama, maka itu malah akan mengakibatkan kemiskinan baru yang disebut kemiskinan secara struktural,” tutur Dr. Ichlas kepada fajar.co.id, Sabtu (20/2/2021).

Ketua Prodi Psikologi FK Universitas Hasanuddin Makassar (Unhas) ini, menjelaskan anak yang melakukan pernikahan dini, lalu masuk di situasi relasi yang rumit, dengan bekal yang minim secara ekonomi, yang menyebabkan situasi rumah tangga tidak kondusif dan fungsional. Sehingga memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Komentar