Alasan Jokowi Tak Bisa Disebut Langgar Prokes Kerumunan Massa, dr Tirta: Dia itu Simbol Negara

Rabu, 24 Februari 2021 17:09

Kerumunan saat kedatangan Jokowi

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (23/2/2021) menuai kritikan keras dari beberapa kalangan.

Dari video yang beredar luar di media sosial terlihat, kehadiran Jokowi membuat massa berkerumun hingga mengabaikan protokol kesehatan.

Banyak pihak yang menyayangkan kejadian tersebut, apalagi Jokowi merupakan pemimpin dalam sebuah Negara. Bahkan pengacara Habib Rizieq Shihab(HRS), Aziz Yanuar meminta pihak berwajib menerapkan sanksi protokoler kepada Jokowi seperti yang di terima HRS.

“Mari kita lihat bapak-bapak penegak hukum, buktikan hukum itu seperti lambang keadilan yakni mata tertutup,” kata Pengacara Rizieq, Aziz Yanuar saat dihubungi Pojoksatu.id, Rabu (24/2/2021).

Akan tetapi statmen Aziz langsung dibantah oleh Relawan COVID-19 dr Tirta Mandira Hudhi. Menurut dr Tirta kasus Jokowi berbeda dengan HRS. Sebab Jokowi tidak mengundang massa untuk datang menyambutnya.

“Jadi gini pak presiden Joko Widodo merupakan simbol negara yang kemanapun beliau pergi akan selalu menarik masa,” ujarnya dikutip dari akun Twitter miliknya, Rabu (24/2/2021).

dr Tirta mencontohkan apa yang dialami youtuber Atta Halilintar, Atta yang kini merupakan youtuber nomor 1 di Asia ini berujar saat sholat Jum’at ia selalu dikerumuni oleh warga, itu karena keterkenalannya.

Dalam video tersebut, lanjut dr Tirta, Presiden sudah mengedukasi masyarakat dengan gesturnya. Namun, karena banyaknya warga yang berkerumun membuat Jokowi sudah untuk membubarkan massa.

“Nah hal ini tentunya satu presiden sudah mengedukasi untuk memakai masker, terlalu banyaknya kerumunan hadir membuat presiden tidak dapat membubarkan. Bahkan disalah satu video beliau dikerumuni oleh banyak,” lanjutnya.

dr Tirta menambahman kejadian ini menjadi catatan untuk protokoler kepresidenan untuk lebih berhati-hati dalam mengatur agenda presiden di lapangan.

“Jadi kembali kepada sanksi protokoler tentu ini sudah tidak relevan untuk ditegakkan, tetap sehat tetap semangat,” tukasnya. (mg5/fajar)

Komentar