Sentil SBY, Gus Nadir: Kami Rakyat Malu Curhat Seolah Jadi Korban Terus

Jumat, 26 Februari 2021 09:27

Gus Nadir (dok. Istimewa)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyinggung sulitnya saat ini mendapatkan keadilan. Setelah tak lagi berkuasa, SBY mengaku kerap merasakan itu.

Misalnya pada tahun 2017 rumahnya di kawasan Kuningan digeruduk oleh ratusan orang. Ketika itu, putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.

Parahnya lagi, lanjut SBY, satu hari menjelang pemungutan suara Pilkada DKI 2017, dirinya diserang fitnah keji dari seseorang yang dekat dengan penguasa. Nahasnya sampai saat ini pemfitnah tersebut tak juga diproses kepolisian.

Meski begitu, Presiden ke-6 RI tersebut mengajak seluruh kader Demokrat tetap menghormati konstitusi, hukum dan tatanan yang berlaku.

Curahan hati SBY yang disampaikannya lewat rekaman video mendapat beragam respon dari sejumlah pihak. Salah satunya cendekiawan muslim Nadirsyah Hosen.

Dalam celotehannya di Twitter, Gus Nadir demikian ia biasa disapa menyampaikan, saat SBY menjabat presiden selama satu dekade, tanggung jawab terbesarnya adalah menetukan arah nasib orang lain. Sementara saat tak lagi berkuasa, nasibnya tak beda dengan rakyat biasa.

“Hidup Kadang Begitu. Saat berkuasa menentukan nasib orang lain. Saat tidak berkuasa, nasibnya sama dengan rakyat biasa,” cuit Gus Nadir di laman Twitternya @na_dirs dikutip Jumat (26/2/2021).

Tokoh NU itu bahkan sedikit menyentil bahwa SBY beruntung pernah berkuasa. Sementara dirinya sebagai rakyat biasa justru malu curhat seolah terus-terusan jadi korban.

Komentar