Tentang Umat Islam di Turki

Jumat, 26 Februari 2021 18:16

Dokumentasi Nur Alim Djalil.

Catatan Perjalanan Nur Alim Djalil

Apa yang saya bayangkan ternyata meleset. Saya membayangkan masjid di Istanbul yang indah-indah itu ramai setiap salat wajib.

Tidak ternyata. Beberapa masjid yang saya masuki untuk salat, jemaahnya sangat kurang. Dapat dihitung sebelah tangan. Malah ada masjid yang azan saja. Kecuali salat Jumat, lumayan penuh.

Setelah mengunjungi beberapa masjid dan jemaah kurang, saya bertanya-tanya ada apa sebenarnya di Turki. Gelisah melihat pemandangan yang saya anggap cuma penilaian selintas — atau jangan-jangan karena Turki memberlakukan pembatasan sosial –, saya coba membuka beberapa referensi tentang Turki saat ini.

Saya gugup ketika mendapati data, bahwa saat ini semakin banyak warga Turki yang berpindah ke ateisme dan deisme. Ateisme tidak meyakini adanya Tuhan. Deisme percaya ada Tuhan namun Tuhan tidak mencampuri urusan manusia.

Secara keseluruhan Islam di Turki dianut 99 persen penduduk, berdasarkan data dari Direktorat Urusan Agama Turki, 2019. Namun yang menjalankannya secara benar, menurut lembaga survei Konda, 51 persen.

Lantas yang hampir setengahnya bagaimana?

Saya teringat ketika di depan Masjid Biru, seorang yang memandu rombongan wisatawan asal Malaysia, menyampaikan untuk salat di Hagia Sophia.

Seorang bertanya kepada si pemandu berkebangsaan Turki tersebut yang sudah lancar berbahasa Melayu, “Kamu ikut salat kan?” Si pemandu itu menggeleng kemudian menjawab, “Tidak. Salat saya hanya hari Jumat.”

Teringat cerita si Biru mengenai teman asramanya yang orang Turki. Si Biru dianggap aneh setiap salat pada waktu salat. Teman asramanya itu jarang salat. Dalam sehari, dua hari, dia tidak salat. Namun sekali salat, salatnya banyak rakaat dengan gerakan cepat.

Pemandangan ketika keluar dari stasiun bawah tanah Taksim, di pelataran luas yang menjadi maskot Taksim, mata saya menangkap sepasang pria yang berpelukan dan – maaf — bercium di tengah keramaian, padahal banyak petugas yang berdiri di sekitar situ yang mengawasi pemberlakuan pembatasan sosial.

Serangkaian kenyataan tersebut, sepertinya menyawab survei Konda itu. Oh, begini ternyata keadaan generasi muda di Turki sekarang. Ini tentu menjadi tantangan besar pemerintahan Turki sekarang.

Setelah “penghapusan” Islam di Turki oleh rezim Attaturk, kemudian mulai dikembalikan oleh Erdogan sejak 2000, pemerintahan Turki perlu kerja lebih keras untuk membangunkan generasi mudanya.

Jangan sampai Turki hanya bangga dengan kebesaran masa lalunya. Turki hanya bangga dengan relik beberapa nabi dan rasul tersimpan di negaranya. Tapi itu tidak menjadi spirit untuk generasi mereka. Ya, Turki jangan sampai hanyalah sebuah museum yang menyimpan peninggalan para nabi.

Sepertinya, tidak hanya Turki yang menghadapi tantangan bagi generasi mudanya. Hampir semua negara yang mayoritas Islam. Indonesia tentu termasuk. Hanya saja di Indonesia, majelis-majelis yang dimotori generasi muda untuk menyampaikan dakwah sangat terbuka dan tumbuh subur.

Maka tidak heran bila di Indonesia, banyak kita jumpai jemaah dengan style milenial ikut mengisi barisan di masjid. Berbeda dengan di Turki, sedikit dijumpai majelis-majelis dakwah seperti di Indonesia.

Indonesia sepertinya mendapat respek yang positif di Turki. Bila menyebut Indonesia, mereka seketika bersikap serius dan segan. Berbeda di Arab Saudi, orang Indonesia sering jadi bulan-bulanan candaan mereka.

Dalam pergaulan sosial, orang Turki sangat santun, sopan, dan selalu bersedia menolong. Misalnya, ketika perjalanan pulang ke bandara, si sopir bertanya bahwa apakah lembaran Swab kami sudah difotokopi? Kami menjawab belum karena berpikir hasil Swab akan diperlihatkan di henpon. Akhirnya si sopir berusaha mencari tempat fotokopi dan menolak untuk dibayar.

Di kawasan Venezea, Kalademiz, saya berkenalan dengan Ariff, seorang penjaga toko kemudian kami saling follow Instagram. Dia bertanya apakah saya berasal dari Indonesia? Saya menjawab, iya. Matanya seketika berbinar.

Dia bertanya bagaimana Islam di Indonesia? Saya menjawab, kebebasan beragamanya sangat baik. Dia bertanya lagi, bagaimana dengan aliran-aliran di Indonesia, apakah ada pertentangan? Saya menjawab, bila aliran itu tetap berdasarkan Al-qur’an dan sunnah, semuanya berjalan dengan baik. Ariff mengangkat kedua tangannya, mengusap wajah, kemudian mengucapkan hamdallah.

Usai salat zuhur-ashar di masjid bandara Keyseri menunggu penerbangan ke Istanbul, sang imam masjid sesekali memandangi saya. Setelah menyesaikan zikir dan doanya, dia kemudian melambaikan tangannya, mengajak masuk ke biliknya.

“Kamu pasti dari Indonesia. Saya mendengar tentang Islam di Indonesia. Mari menjelang bulan suci Ramadan kita banyak berdoa dan bersedekah, semoga kita mendapat ampunan-Nya. I love Indonesia,” begitu yang saya tangkap dari ucapannya.

Saya juga love Indonesia. Karena itu, saya ingin segera kembali ke pangkuannya. (*)

Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Fajar (Unifa)

Bagikan berita ini:
8
8
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar