Akankah Trofi Bung Hatta Anti-Corruption Award yang Diterima NA Dicabut?

Minggu, 28 Februari 2021 10:18

NA saat menerima penghargaan.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah sebagai tersangka suap proyek infrastruktur. Nurdin bakal mendekam selama dua hari di Rutan KPK. Keterangan resmi tersebut disampaikan langsung Ketua KPK Firli Bahuri saat gelar konferensi pers, Minggu (28/2/2021) dini hari.

Kejadian ini menggemparkan Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Selatan. Pasalnya, Nurdin dikenal sebagai tokoh dan kepala daerah anti-gratifikasi. KPK juga selalu dilibatkan dalam menjalankan roda pemerintahan. Bahkan Nurdin pernah diganjar trofi penghargaan bergengsi dari Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) tahun 2017 lalu. 

Bung Hatta AC Award di laman Twitternya @BungHattaAward mengaku terkejut dan prihatin dengan kasus korupsi yang melilit Nurdin Abdullah. Diterangkan, Nurdin mendapat BHACA tahun 2017 saat ia menjabat bupati Bantaeng.

“Kami sangat terkejut & prihatin dengan berita tentang pak Nurdin Abdullah pagi ini. Beliau mendapat award tahun 2017 ketika masih menjabat Bupati Bantaeng, Sulsel,” tulisnya di Twitter.

Salah satu anggota dewan juri Bung Hatta Award 2017, Bivitri Susanti juga bereaksi yang sama. Ia sangat menyesalkan atas apa yang dilakukan Gubernur Sulsel tersebut.

“Penangkapan Gubernur Sulsel ini tentu sangat disesalkan,” ujar Bivitri kepada fajar.co.id, Sabtu (27/2/2021).

Menurut Bivitri, proses pemilihan penerima penghargaan berlangsung sangat serius dan ketat. Selain menerima masukan masyarakat, penelusuran rekam jejak juga dilakukan secara langsung ke lapangan. 

Komentar