Mengaku Transaksi di Luar Pengetahuannya, Nurdin Abdullah: Demi Allah!

Minggu, 28 Februari 2021 12:32

Nurdin Abdullah saat dihadirkan dalam konferensi Pers KPK.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah membantah dirinya terlibat suap pembangunan infrastruktur seperti yang disangkakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). NA bahkan berani mengucap sumpah atas nama Tuhan.

Masih berjaket hitam, celana jeans, bermasker putih, serta topi berwarna biru namun dipadu dengan rompi oranye khas tersangka KPK dan tangan diborgol, langkah cepat NA meninggalkan Gedung KPK sempat terhadang oleh puluhan awak media yang telah menunggunya hampir 12 jam.

NA berusaha tegar meski suaranya terdengar lirih. Pundaknya sedikit bongkok, mungkin karena kelelahan menjalani pemeriksaan hampir 1×24 jam.

Orang nomor satu di Sulsel ini ditetapkan tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa, perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemprov Sulsel Tahun Anggaran 2020-2021.

Selain Nurdin Abdullah, KPK juga menetapkan dua tersangka lainnya yakni Edy Rahmat yang merupakan Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sulsel, dan Direktur PT Agung Perdana Bulukumba, Agung Sucipto sebagai pemberi suap.

“Ternyata Edy itu melakukan transaksi tanpa sepengetahuan saya. Sama sekali tidak tahu, demi Allah demi Allah,” tegas NA di Gedung KPK, Jakarta, Minggu (28/2/2021) dini hari sebelum memasuki mobil tahanan KPK.

Mantan Bupati Bantaeng dua periode itu mengaku ikhlas menjalani proses hukum yang menjeratnya. Ia benar-benar tidak mengetahui adanya praktek suap menyuap itu. “Saya ikhlas menjalani proses hukum karena memang kemarin itu tidak tahu apa-apa kita,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu pula, Nurdin Abdullah memohon maaf kepada seluruh masyarakat Sulawesi Selatan. Itu pesan terakhir NA hingga mobil tahanan KPK membawanya ke Rutan KPK, cabang Pomdam Jaya Guntur.

“Saya mohon maaf,” kata Nurdin terdengar lirih seraya berlalu.

Diketahui, berdasarkan keterangan resmi Ketua KPK Firli Bahuri saat gelar konferensi pers, NA diduga menerima total Rp5,4 miliar dengan rincian pada 26 Februari 2021 menerima Rp2 miliar yang diserahkan melalui Edy dari Agung.

Tak hanya itu, NA juga diduga menerima uang dari kontraktor lain di antaranya pada akhir 2020 NA menerima uang sebesar Rp200 juta, pertengahan Februari 2021 NA melalui ajudannya bernama Samsul Bahri menerima uang Rp1 miliar, dan awal Februari 2021 NA melalui Samsul Bahri menerima uang Rp2,2 miliar. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
7
4
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar