Sindir Mualaf yang Jadi Ustad, Gus Najih: Cukup Meresahkan

Rabu, 3 Maret 2021 17:26
Sindir Mualaf yang Jadi Ustad, Gus Najih: Cukup Meresahkan

Ustad Felix Siauw dan Ustad Yahya Waloni (Istimewa)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Sekertaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) M.Najih Ramadhan atau yang akrab dipanggil Gus Najih, mengomentari penceramah-penceramah baru yang muncul dari berbagai kalangan.

Najih menyebut, para penceramah ini muncul mendadak baik dari kalangan artis, mantan preman, hingga para mualaf. Dia menilai, kemunculan mereka cukup meresahkan ummat Islam.

“Jadi fenomena Ustad dadakan ini memang sangat meresahkan, bukan hanya non muslim yang resah, tapi lebih dari itu, ummat islam yang paling resah,” ujar Najih dilansir Chenal YouTube RKN Media, Rabu (3/3).

Najih menilai, banyak penyimpangan dalam Agama itu dilakukan oleh orang para ustad dadakan seperti itu, sebab mereka tak mempunyai latar belakang pendidikan Agama Islam secara formal.

“Banyak penyimpangan dalam Agama itu dilakukan oleh seperti ini, yang tidak punya kapasitas dalam menyampaikan Agama, apalagi menyandang gelar Ustad,” ujarnya.

Menurutnya, penceramah ini menjamur dikarenakan tak ada aturan hukum yang mengatur hal itu. Sehingga kemunculan mereka tidak bisa ditindak.

“Gelar Ustad ini adalah gelar yang paling mudah didapat. Orang paling mudah menyamar jadi ustad. Karena menyamar jadi ustad tidak ada pelanggaran hukum,” katanya.

Dia mencontohkan para ustad dadakan dari kalangan mualaf yang menyebarkan pemahaman kontradiktif, seperti Yahya Waloni, Felix Siauwuhingga Irena Handono.

“Kalau kita lihat ada beberapa mualaf yang menyandang gelar atau meng-ustadkan diri, tetapi kemudian dakwahnya meresahkan. Seperti misalnya Felix Siauw, tentu saja ya. Di mana dalam beberapa kasus, Felix Siauw yang baru saja mengenal dengan Islam, tetapi tiba-tiba mengkafirkan negara Ini. Kemudian juga ada Irena Handono, sampai dengan juga Yahya Waloni,” tukasnya. (dal/fin)

Bagikan berita ini:
7
5
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar