Divonis 6 Tahun Penjara, Hakim: Nurhadi Dinilai Berjasa Dalam Kemajuan MA

Kamis, 11 Maret 2021 11:26

Tersangka kasus dugaan suap gratifikasi senilai Rp 46 miliar, Nurhadi dan Rezky Herbiyono berjalan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (2/6/2020). KPK menangkap Nurhadi yang merupakan mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) dan menantunya, Riezky Herbiyono di Simprug, Jakarta Selatan pada Senin (1/6) malam setelah buron sejak hampir empat bulan lalu. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

“Hal memberatkan, merusak nama baik MA dan lembaga peradilan di bawahnya,” ujar Hakim Saifudin.

Menanggapi ini, Jaksa Wawan Yunarwanto tak mempermasalahkannnya. Karena itu merupkan pertimbangan dan kewenangan majelis hakim dalam menjatuhkan putusan. “Itu kan penilaian hakim, jadi sah-sah saja nggak ada masalah,” tegas Wawan.

Meski demikian, Jaksa KPK mengajukan upaya hukum banding atas vonis hakim tersebut. Karena vonis kepada Nurhadi tidak 2/3 dari tuntutan Jaksa yang meminta Nurhadi agar divonis 12 tahun pidana penjara, sementara Rezky divonis 11 tahun pidana penjara.

“Jadi pertimbangan kami, karena penjatuhan pidana kurang dari 2/3 dari tuntutan yang kami ajukan,” ucap Jaksa Wawan.

Alasan lainnya mengajukan upaya hukum banding karena tidak seluruhnya dakwaan hingga tuntutan jaksa terbukti sebagaimana amar putusan hakim. Jaksa menyesalkan, hakim hanya menilai Nurhadi terbukti menerima suap sebesar Rp 35.726.955.000 dari Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto.

Padahal sebagaimana dakwaan dan surat tuntutan, Nurhadi dan Rezky diyakinu menerima suap sebesar Rp 45.726.955.000. Uang suap tersebut diberikan agar memuluskan pengurusan perkara antara PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) terkait dengan gugatan perjanjian sewa menyewa depo kontainer.

Bagikan berita ini:
10
1
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar